Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jakarta Terancam Tenggelam, Penurunan Tanah Tercepat di Dunia

Jeny Tri Kurnia Putri • Kamis, 23 April 2026 | 09:01 WIB
Ilustrasi bendungan DKI Jakarta. (Freepik.com)
Ilustrasi bendungan DKI Jakarta. (Freepik.com)

RADARTUBAN - Jakarta kini tengah menghadapi ancaman serius yang tak kasat mata. Fenomena penurunan muka tanah yang terjadi setiap hari membuat Jakarta berada dalam situasi darurat.

Tak main-main, Jakarta tercatat sebagai kota dengan laju penurunan tanah tercepat dibandingkan kota-kota pesisir lainnya di dunia.

Berdasarkan data terbaru, laju penurunan tanah di Jakarta mencapai angka 5 hingga 12 cm per tahun.

Angka ini jauh melampaui kota-kota besar dunia lainnya seperti Bangkok yang hanya 1-3 cm, Ho Chi Minh 1-2 cm, hingga New Orleans yang hanya berada di angka 1 cm per tahun.

Baca Juga: Detik-Detik Tsunami Pasca Gempa M 7,6! Air Laut Dilaporkan Naik di Minahasa hingga Halmahera

Saksi Bisu Penurunan Tanah

Kondisi ini diperparah dengan kombinasi kenaikan permukaan air laut.

Salah satu bukti nyata dari fenomena ini adalah kondisi Musala Waladuna di kawasan Jakarta Utara. Musala yang berdiri sejak tahun 1996 ini mulai terendam banjir rob sejak tahun 2000-an.

Kini, di tahun 2026, musala tersebut menjadi saksi bisu bahwa penurunan tanah benar-benar terjadi dan menenggelamkan bangunan secara perlahan.

Penurunan tanah ini dipicu oleh beberapa faktor utama, mulai dari masifnya penggunaan sumur bor air tanah, beban bangunan beton yang berat, hingga beban populasi penduduk yang terus bertambah.

“10 cm per tahun artinya 10 tahun kan 1 meter. Data kami hasil olahan baik dari data geodetik GPS atau InSAR itu menunjukkan di bagian utara itu cenderung sudah mulai menurun,” ungkap Arif Aditya.

Langkah Mitigasi Darurat

Meski data Badan Informasi Geospasial menunjukkan adanya perlambatan laju penurunan setelah tahun 2017 dari 10 cm menjadi sekitar 6 cm per tahun ancaman ini tetap dikategorikan sangat berbahaya dalam jangka panjang.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mulai mengambil langkah serius untuk menangani titik-titik krusial di pesisir.

Langkah jangka pendek yang diambil adalah pembangunan tanggul mitigasi di lima titik rawan, termasuk Pantai Mutiara, Ancol, RE Martadinata, Kalibaru, dan Muara Angke. Namun, tanggul ini diakui hanya bersifat sementara atau darurat.

Solusi Permanen Giant Sea Wall

Upaya permanen yang direncanakan adalah pembangunan tanggul lepas pantai atau Giant Sea Wall.

Tanpa adanya pengendalian eksploitasi air tanah dan perlindungan pesisir yang kuat, ancaman Jakarta tenggelam bukan lagi sekadar isu, melainkan bom waktu.

“Tanggul mitigasi yang sedang dikerjakan itu hanya upaya sementara, tidak permanen. Yang permanen itu adalah tanggul lepas pantai yang kita sebut dengan Giant Sea Wall,” tegas Firdaus Ali Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta.

Pembenahan tata air dan penghentian penyedotan air tanah secara berlebihan menjadi harga mati agar Jakarta tidak benar-benar hilang ditelan laut di masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#penurunan muka tanah #kenaikan permukaan air laut #tenggelam #jakarta