RADARTUBAN - Kisah inspiratif datang dari Ahmad Siddiq, seorang pemuda asal Pedurungan, Kota Semarang, yang berhasil mengubah nasib melalui pertanian hidroponik.
Berawal dari modal Rp 5 juta hasil menabung selama bekerja serabutan, kini kebun sayurnya yang bernama Ahmad Farm mampu meraup omzet jutaan rupiah per bulan dan menjadi rujukan program nasional.
Siddiq menceritakan bahwa perjalanannya tidaklah instan. Sebelum sukses mengembangkan 4.000 lubang tanam hidroponik, ia sempat melakoni berbagai pekerjaan berat.
Baca Juga: Ladang Bunga Matahari di India Jadi Sumber Minyak Nabati dan Penopang Ekonomi Pertanian
Mulai dari menjadi sales sekaligus kuli panggul garam di pasar, hingga mencoba peruntungan di ternak lele dan entok yang berakhir dengan kegagalan.
“Dari lele dan entok itu terasa capek, tidak ada hasil. Mungkin saya yang kurang ilmu. Jadi ketika beralih ke hidroponik dan ternyata bisa menjualnya, akhirnya saya memantapkan diri di sini,” ungkap alumni Ekonomi UIN Walisongo Semarang tersebut.
Modal Menabung dari Upah Kuli
Ketertarikan Siddiq pada hidroponik bermula pada akhir 2019 setelah melihat unggahan temannya di media sosial.
Dengan bekal belajar autodidak melalui YouTube dan Facebook, ia memberanikan diri merintis kebun pertamanya pada awal 2020 dengan 400 lubang tanam.
Modal yang digunakan adalah sisa-sisa gaji dari pekerjaannya ikut sang ayah dan menjadi sales garam.
Meski tidak memiliki dasar pendidikan pertanian, kegigihan Siddiq membuahkan hasil. Ia kini fokus membudidayakan selada dan sawi pakcoy.
Strategi pemasarannya pun tergolong unik; ia memilih bermain di pasar receh namun dengan kuantitas tinggi, bersaing langsung dengan sayuran konvensional di pasar-pasar tradisional melalui sistem door-to-door.
Dilirik Program MBG dan Kemitraan Strategis
Kesuksesan Ahmad Farm tidak hanya terlihat dari sisi finansial. Saat ini, kebunnya mulai dilirik untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.
Bahkan, ia tengah menjajaki kerja sama besar dengan pihak SPPG Polri di Pedurungan untuk membangun 7.000 titik lubang tanam baru dengan sistem kemitraan.
“Ini baru negosiasi, mau kerja sama dengan SPPG Polri untuk bikin kebun 7.000 titik. Nanti seluruh panenannya masuk ke sana (Program Makan Siang),” jelas Siddiq.
Omzet Melebihi Gaji UMR
Dari hasil ketelatenannya, Siddiq mampu memproduksi sekitar 40 hingga 60 pak sayur setiap hari dengan harga jual rata-rata Rp 4.000 per pak.
Secara matematis, omzet rutin yang didapatnya berkisar di angka Rp 6,6 juta per bulan, bahkan bisa menembus angka Rp 9,6 juta saat momen-momen tertentu seperti Idul Adha atau tahun baru.
Bagi para pemula yang ingin merintis usaha, Siddiq berpesan agar tidak terburu-buru keluar dari pekerjaan tetap.
“Mulai dari menyisihkan pendapatan sedikit demi sedikit. Konsisten itu lebih bagus daripada langsung banyak tapi tidak ulet,” pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni