Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Benci Koruptor Tapi Suka Curang? Waspada Mentalitas Korupsi Kecil yang Tumbuh di Balik Layar HP

M Robit Bilhaq • Kamis, 30 April 2026 | 11:43 WIB
Ilustrasi korupsi. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi korupsi. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN - Fenomena "korupsi kecil-kecilan" di Indonesia, seperti trik pengembalian dana palsu (refund fraud) di aplikasi ojek online, penggunaan software bajakan, hingga kebiasaan meminta "harga teman", menjadi sorotan tajam. 

Banyak orang yang membenci koruptor di televisi, tetapi tanpa sadar dirinya mempraktikkan mentalitas yang sama dalam skala lebih kecil.

Berikut adalah poin-poin utama kenapa fenomena ini terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.

1. Deception Consensus Effect & Moral Licensing

Tak sedikit pelaku kecurangan kecil-kecilan yang merasa diri mereka adalah orang jujur. 

Hal ini dikarenakan oleh deception consensus effect, di mana orang yang sering berbuat curang justru mereka yakin bahwa dirinya adalah orang baik. 

Baca Juga: Kejari Cimahi Bongkar Dugaan Korupsi Program Pelatihan Kerja Pemkot Cimahi

Selain itu, ada konsep moral licensing, yaitu mekanisme otak yang memberikan "izin" untuk berbuat curang di satu area karena merasa sudah melakukan banyak kebaikan di area lain (seperti, merasa boleh membajak film karena sudah rajin berdonasi).

2. Teknologi sebagai "Bypass" Empati

Secara historis, moralitas manusia bekerja melalui kedekatan (proximity). 

Kita biasanya akan enggan merugikan orang yang wajahnya kita lihat langsung. 

Saat ini, teknologi digital menciptakan jarak yang membuat dampak kerugian dari tindakan kita menjadi tidak terlihat (online disinhibition effect). 

Seperti contoh kita tidak melihat wajah driver yang gajinya terpotong atau pekerja kreatif yang kehilangan mata pencaharian akibat pembajakan.

3. Dampak Nyata yang Tersembunyi

Skala kerugiannya sangat besar, meski seringkali dianggap sepele, pembajakan film di Indonesia bisa merugikan industri hingga 5 triliun rupiah per tahun, angka yang setara dengan gaji layak untuk lebih dari 100.000 pekerja kreatif. 

Begitu pula dengan refund fraud yang membuat seorang driver ojek online bekerja seharian tanpa membawa pulang uang sepeser pun karena saldonya terpotong oleh klaim palsu.

4. Prinsip Mengubah Mentalitas

Untuk memperbaiki fenomena tersebut, terdapat tiga prinsip yang bisa diterapkan.

Via Negativa

Berhenti melakukan satu hal buruk jauh lebih bermakna daripada sekadar menambah satu kebaikan. 

Mulailah dengan berhenti membajak satu film atau berhenti meminta gratisan kepada teman.

Kantian Test

Tanyakan pada diri sendiri "Apa yang terjadi jika semua orang di Indonesia melakukan hal yang sama?".

Jika hasilnya adalah kehancuran sistem, maka tindakan tersebut tidak patut dilakukan.

Mewaku

Mengadopsi filosofi Jepang yang menekankan kesadaran mendalam untuk tidak merepotkan atau merugikan orang lain sebagai bagian dari identitas diri.

Mentalitas koruptor dan mentalitas gratisan adalah spektrum yang sama. 

Perubahan besar dimulai dari keputusan kecil di balik layar ponsel kita untuk tidak merugikan orang lain demi keuntungan pribadi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Korupsi kecil-kecilan #dana palsu #kecurangan #koruptor