RADARTUBAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggeber strategi agresif untuk menaikkan produksi minyak nasional yang selama ini terpuruk.
Ketua Umum Golkar ini mengaku sudah siapkan insentif fiskal bagi kontraktor migas sekaligus ancaman pencabutan konsesi bagi yang mandek.
Bahlil mengungkapkan, dari 39.600 sumur milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), mayoritas adalah sumur tua yang belum tereksplorasi optimal, termasuk warisan zaman Belanda berusia 90-100 tahun.
Baca Juga: Perintah Keras Prabowo Subianto ke Bahlil: Cabut IUP di Hutan Lindung dalam 1 Minggu
Sekitar 80 persen sumur nasional tergolong tua, sehingga pemerintah dorong penerapan teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan tingkat pengembalian Internal Rate of Return (IRR) yang lebih fleksibel: 13-17 persen untuk proyek eksisting guna percepat lifting.
Dia juga berikan ultimatum tegas: konsesi wilayah kerja (WK) yang mangkrak seperti Abadi Masela bakal dicabut jika tak kunjung jalan dalam waktu dekat.
Penurunan lifting migas jadi sorotan karena tak capai target APBN di tengah naiknya kebutuhan energi domestik.
Bahlil tekankan optimalisasi sumur existing plus eksplorasi baru sebagai kunci, dengan keberanian ambil keputusan saling menguntungkan antarpihak. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama