Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

4 Dokter Muda Wafat Saat Internship, Sistem dan Beban Kerja Dipertanyakan

Siti Rohmah • Selasa, 5 Mei 2026 | 07:57 WIB
Ilustrasi Dokter
Ilustrasi Dokter

RADARTUBAN - Meninggalnya empat dokter muda yang tengah menjalani program internship sejak Februari hingga awal Mei 2026 memicu keprihatinan serius di kalangan tenaga kesehatan.

Peristiwa ini dinilai sebagai peringatan penting untuk mengevaluasi sistem serta perlindungan dalam pelaksanaan program tersebut.

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan bahwa kejadian ini bukan sekadar kehilangan individu, tetapi juga kehilangan calon tenaga medis yang sangat dibutuhkan di Indonesia.

“Ini bukan sekadar kehilangan individu, tapi juga kehilangan calon tenaga medis yang sangat dibutuhkan di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/5)

Baca Juga: 4 Kebiasaan Pagi yang Diam-Diam Rusak Ginjal, Dokter Ungkap Bahaya Silent Killer yang Sering Diabaikan

Dokter terakhir yang dilaporkan wafat adalah Myta Aprilia Azmi, yang bertugas di Rumah Sakit KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi. 

Dengan demikian, total empat dokter internship meninggal dalam kurun waktu sekitar tiga bulan.

Program internship sendiri merupakan tahap wajib bagi lulusan kedokteran sebelum dapat menjalankan praktik mandiri.

Program ini dirancang sebagai masa transisi dari pendidikan akademik menuju praktik profesional di lapangan.

Tjandra mengaitkan fenomena ini dengan kajian dalam jurnal internasional The Health Worker Paradox: When Caregivers Become Patients yang diterbitkan oleh Medscape pada 24 April 2026.

Kajian tersebut menyoroti tingginya beban kerja tenaga kesehatan, termasuk jam kerja panjang, tugas jaga malam, serta tekanan kerja yang berpotensi memicu stres dan kelelahan berkepanjangan atau burnout.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental dokter, bahkan menurunkan kualitas hidup, terutama jika sistem kerja tidak memberikan dukungan yang memadai.

Ia menilai dokter internship yang umumnya masih berusia muda dan berada pada posisi junior sangat rentan terhadap tekanan tersebut.

“Dalam situasi seperti itu, mereka membutuhkan sistem yang melindungi, bukan justru menambah beban,” kata Tjandra.

Ia pun mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperbaiki program internship melalui tiga aspek utama, yakni menjaga mutu program sebagai tahap pembelajaran, memberikan perlindungan dari tekanan fisik dan mental berlebihan, serta menjamin kesejahteraan peserta selama menjalani penugasan.

Menurut Tjandra, peristiwa ini harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh. “Program internship harus menjadi lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih bermartabat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Aji Muhawarman, menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Myta Aprilia Azmi.

Ia menyebut pihaknya telah menurunkan tim investigasi untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut.

“Investigasi dilakukan secara komprehensif untuk menelusuri seluruh rangkaian kejadian, termasuk aspek pelayanan medis, tata kelola wahana internship, beban kerja, pendampingan peserta, serta proses skrining kesehatan sebelum penempatan,” ujar Aji.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga akan melakukan audit rekam medis, termasuk penelusuran proses pemeriksaan kesehatan serta pengumpulan keterangan dari keluarga, rekan sejawat, hingga tenaga medis yang menangani almarhumah.

“Informasi awal terkait kondisi kesehatan almarhumah, termasuk dugaan penyakit penyerta, akan diverifikasi lebih lanjut. Karena itu, Kemenkes tidak akan berspekulasi dan menunggu hasil investigasi secara menyeluruh selesai,” kata Aji.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#internship #sistem kerja #dokter #Kemenkes #meninggal