RADARTUBAN - Konsultan pajak Nadiem Makarim, yakni Ashadi Bunjamin, memaparkan alasan di balik pengungkapan nilai saham yang dimiliki mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut hingga mencapai Rp 5,2 triliun.
Lonjakan nilai aset tersebut ditegaskan murni berasal dari proses penawaran umum perdana (IPO) PT Gojek Tokopedia (GoTo) pada tahun 2022, bukan hasil dari transaksi jual beli saham.
Ashadi menjelaskan bahwa pada tahun 2020, Nadiem memiliki 58.416 lembar saham di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (PT AKAB) nama lama GoTo dengan total nilai aset Rp 1,2 triliun.
Baca Juga: Kubu Nadiem Ajukan Saksi Google hingga Eks Sekjen Kemendikbud di Sidang Chromebook
Memasuki 2021, perusahaan melakukan restrukturisasi melalui stock split atau pemecahan saham.
Dalam proses stock split tersebut, jumlah lembar saham Nadiem membengkak dari 58.416 lembar menjadi 15 miliar lembar.
Kendati jumlah lembarnya bertambah, total nilai aset secara keseluruhan tetap berada di angka Rp 1,2 triliun karena nilai per lembarnya mengecil.
Ashadi menegaskan, Nadiem tidak mengeluarkan dana tambahan apa pun untuk menambah jumlah saham tersebut.
Peningkatan signifikan nilai saham menjadi Rp 5,2 triliun terjadi saat GoTo resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2022. Saat IPO, harga acuan yang ditetapkan adalah Rp 338 per lembar saham.
Saham dengan nilai tersebut kemudian disimpan ke dalam dua rekening di Bank of Singapore (BOS) dengan rincian masing-masing Rp 850 miliar dan Rp 4,4 triliun.
Ashadi menegaskan bahwa kepemilikan saham pasca-IPO tersebut wajib dicatat dalam Surat Pemberitahuan (SPT) sebagai perolehan baru.
Nadiem Makarim sebelumnya juga telah menegaskan dalam sidang bahwa angka Rp 5,2 triliun itu bukan merupakan pendapatan tunai atau peningkatan pendapatan pribadi, melainkan konsekuensi dari harga IPO perusahaan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni