Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bahlil Tunda Penerapan Royalti Tambang, Pemerintah Kaji Formula Baru yang Lebih Seimbang

Siti Rohmah • Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketika memberikan keterangan. (Jawapos.com)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketika memberikan keterangan. (Jawapos.com)

RADARTUBAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memutuskan menunda penerapan kebijakan tarif royalti baru untuk sejumlah komoditas tambang, termasuk tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.

Penundaan dilakukan setelah pemerintah menerima berbagai masukan dari pelaku usaha dan masyarakat.

Bahlil mengatakan pemerintah akan menyusun formulasi baru yang dinilai lebih adil dan mampu mengakomodasi kepentingan negara maupun dunia usaha.

“Setelah mendengar masukan dari publik dan pelaku industri, penerapan kebijakan ini kami tunda terlebih dahulu untuk merumuskan formula yang lebih baik dan saling menguntungkan,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.

Baca Juga: Bahlil Lahadalia dan Ryosei Akazawa Sepakati Kerja Sama Mineral Kritis dan Energi Nuklir Indonesia–Jepang

Menurut dia, pemerintah berupaya mencari skema royalti yang tetap mampu meningkatkan penerimaan negara tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada sektor usaha pertambangan.

Bahlil juga menegaskan bahwa sidang dengar pendapat mengenai usulan perubahan tarif royalti yang digelar pada 8 Mei 2026 masih bersifat sosialisasi dan belum menjadi keputusan final pemerintah.

Terkait target pemberlakuan kebijakan pada Juni 2026, ia menyebut pemerintah masih melakukan kajian lanjutan guna memperoleh formulasi yang paling ideal.

“Kami masih mempertimbangkan berbagai aspek agar kebijakan ini tidak merugikan pelaku usaha, namun tetap dapat mengoptimalkan pendapatan negara,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin pagi. IHSG tercatat turun 9,46 poin atau sekitar 0,14 persen ke level 6.959,94.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai pergerakan pasar saham dalam beberapa hari ke depan akan dipengaruhi dinamika geopolitik global serta rencana kebijakan tarif royalti tambang.

Menurut Hari, wacana kenaikan royalti dinilai telah memberikan sentimen tersendiri bagi pelaku pasar karena sebelumnya ditargetkan mulai berlaku pada Juni 2026.

Ia menjelaskan komoditas emas menjadi sektor dengan kenaikan tarif paling besar secara persentase, khususnya pada batas bawah tarif yang disebut meningkat hingga 100 persen. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberi tekanan di tengah harga emas global yang masih tinggi.

Sementara itu, komoditas timah disebut sebagai sektor yang paling terdampak karena kenaikan tarif direncanakan terjadi di seluruh rentang royalti yang berlaku.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tarif royalti baru #bahlil lahadalia #tambang #tembaga #nikel