RADARTUBAN - Peta profesionalisme sepak bola Indonesia mulai terlihat lebih jelas.
PSSI resmi merilis daftar klub yang berhasil mengantongi lisensi AFC untuk musim 2025/2026, sebuah syarat penting bagi tim yang ingin tampil di kompetisi level Asia.
Dari hasil evaluasi tersebut, delapan klub dinyatakan lolos penuh tanpa catatan.
Mereka adalah Borneo FC, Dewa United, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, Persik Kediri, Persita Tangerang, dan PSM Makassar.
Sementara itu, delapan klub lainnya masih mendapatkan lisensi dengan status bersyarat atau memerlukan perbaikan dalam beberapa aspek tertentu.
Baca Juga: Jadi Pembeda di Skuad Persib, Adam Alis ingin Semua Fokus ke Sisa Laga
Lisensi AFC Bukan Sekadar Formalitas
Lisensi AFC selama ini sering dianggap sekadar administrasi. Padahal, prosesnya jauh lebih kompleks.
Klub harus memenuhi standar ketat mulai dari manajemen, legalitas, pembinaan usia muda, infrastruktur stadion, hingga kesehatan finansial.
Karena itu, keberhasilan delapan klub mendapatkan lisensi penuh menjadi sinyal penting bahwa sebagian klub Liga Indonesia mulai bergerak menuju tata kelola profesional.
Sebaliknya, status lisensi bersyarat menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah besar yang belum selesai di sepak bola nasional.
Klub Besar Masih Punya PR
Beberapa nama besar ternyata belum lolos penuh. Arema FC, Bali United, hingga Persis Solo masuk kategori lisensi dengan catatan.
Lima klub lainnya yakni Madura United, Persijap Jepara, Bhayangkara FC, Malut United, dan Semen Padang FC.
Kondisi itu menjadi pengingat bahwa kekuatan di lapangan tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan administratif dan finansial klub.
Baca Juga: Indonesia Cetak Lonjakan Tertinggi Asia di Ranking AFC Usai Kiprah Persib dan Dewa United
Di level Asia, AFC memang tidak hanya melihat prestasi pertandingan. Stabilitas keuangan, keamanan stadion, hingga keberlanjutan organisasi kini menjadi tolok ukur utama.
Rilis lisensi AFC ini sekaligus memperlihatkan wajah baru sepak bola Indonesia yang perlahan mulai dipaksa berbenah.
Di tengah tuntutan kompetisi modern, klub tak lagi cukup hanya punya suporter besar atau pemain mahal — mereka juga dituntut sehat, tertata, dan profesional dari dalam. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni