RADARTUBAN - Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto mengenai dolar Amerika Serikat kembali ramai diperbincangkan publik usai beredar infografis berisi pandangan para presiden Indonesia tentang ekonomi nasional.
“Mau dolar berapa ribu kek, kalian di desa-desa nggak pakai dolar. Yang pusing itu yang sering ke luar negeri.” kata Prabowo saat peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Sabtu (16/5) lalu.
Kutipan tersebut langsung memancing perdebatan di media sosial karena dianggap mencerminkan cara pandang berbeda terhadap dampak penguatan dolar terhadap masyarakat kecil.
Baca Juga: Bitcoin Mencapai Angka Tertinggi Rp 1,1 Miliar Dolar, Dipicu Pemilu Amerika Sertikat
Dari Soekarno hingga Jokowi
Infografis yang beredar juga menampilkan kutipan sejumlah presiden sebelumnya terkait ekonomi dan stabilitas nasional.
Soekarno pernah menegaskan pentingnya “berdikari dalam ekonomi.” Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pidato Berdikari, 17 Agustus 1965.
Sementara Soeharto menekankan bahwa “stabilitas nasional adalah syarat utama pembangunan.” Ini disampaikan pada pidato kenegaraan, 16 Agustus 1990.
Di masa krisis 1998, B.J. Habibie menyebut, “Krisis ini adalah krisis kepercayaan.”
Sedangkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lebih menyoroti dampak langsung kepada rakyat dengan mengatakan, “Yang lebih penting adalah rakyat jangan sampai menderita.” Ini disampaikan dalam wawancara dengan Kompas pada 7 November 2000.
Narasi serupa juga muncul dari Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo yang sama-sama menyinggung disiplin fiskal dan fundamental ekonomi nasional.
Kritik dan Realitas Ekonomi
Meski pernyataan Prabowo dianggap dekat dengan masyarakat desa, sejumlah pengamat menilai dampak kenaikan dolar sebenarnya tetap bisa menjalar hingga level akar rumput.
Harga pangan impor, pupuk, bahan bakar, hingga biaya produksi industri dalam negeri sangat dipengaruhi kurs rupiah terhadap dolar AS.
Namun di sisi lain, narasi Prabowo dinilai mencoba menenangkan kepanikan publik agar tidak terlalu terjebak pada gejolak nilai tukar harian.
Perdebatan ini memperlihatkan satu hal penting: setiap presiden memiliki gaya komunikasi berbeda dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Tetapi tujuan akhirnya tetap sama, menjaga stabilitas nasional dan memastikan rakyat tidak menjadi korban terbesar dari gejolak global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni