Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dihantam Lonjakan Harga Bahan Baku, PT CWII Sragen Terpaksa Rumahkan 800 Pekerja Kontrak

Amaliya Syafithri • Kamis, 21 Mei 2026 | 07:50 WIB
Ilustrasi pekerja di PT CWII yang di PHK. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi pekerja di PT CWII yang di PHK. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN - Gelombang pemutusan hubungan kerja serta kebijakan efisiensi ketenagakerjaan kembali melanda sektor industri manufaktur di wilayah Jawa Tengah, membawa dampak sosial yang cukup signifikan bagi masyarakat lokal. 

Kali ini, kabar duka menyelimuti ratusan pekerja di Kabupaten Sragen setelah pihak manajemen PT CWII mengambil keputusan pahit untuk tidak memperpanjang kontrak kerja dari sekitar 800 buruh dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). 

Keputusan berat ini terpaksa diambil oleh perusahaan di tengah situasi makroekonomi global yang semakin tidak menentu.

Baca Juga: Status Guru Non-ASN Berakhir 2026, Pemerintah Janji Tak Ada PHK Sepihak

PT CWII, yang dikenal luas sebagai salah satu pabrik manufaktur berskala besar yang memproduksi mainan anak, boneka, molding, serta komponen plastik di Sragen, menghadapi tekanan operasional yang sangat berat sepanjang awal tahun 2026 ini. 

Masalah utama berakar pada melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi secara terus-menerus. 

Kondisi tersebut diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik di berbagai belahan dunia yang mengganggu jalur logistik internasional. 

Kombinasi kedua faktor ini memicu lonjakan drastis pada harga bahan baku industri yang sebagian besar masih harus didatangkan melalui skema impor.

Kenaikan ongkos produksi yang tidak sebanding dengan pendapatan perusahaan menempatkan manajemen dalam posisi yang sangat sulit. 

Situasi ini semakin diperumit dengan adanya tren penurunan volume pemesanan atau order dari para mitra bisnis internasional yang juga sedang melakukan penghematan anggaran. 

Guna menghindari kerugian finansial yang lebih besar dan demi menjaga kelangsungan operasional pabrik secara keseluruhan, manajemen perusahaan akhirnya memilih opsi pengurangan jumlah tenaga kerja melalui kebijakan tidak memperpanjang masa kontrak para buruh PKWT yang masa kerjanya berakhir.

Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sragen secara resmi membenarkan adanya laporan mengenai kebijakan pelepasan ratusan karyawan tersebut. 

Berdasarkan data administrasi yang masuk, total buruh yang terdampak kebijakan ini mencapai lebih dari 800 orang dan dilakukan secara bertahap demi menjaga kondusivitas. 

Langkah ini tentu menjadi pukulan telak bagi para buruh, terlebih keputusan ini bertepatan dengan momen ekonomi yang sulit di mana mencari lapangan kerja baru bukanlah perkara yang mudah bagi masyarakat.

Baca Juga: Gubernur Sumut Tanggapi Isu Ancaman PHK Massal Karyawan PT TPL

Kendati harus mengambil langkah efisiensi yang ekstrem, pihak manajemen PT CWII tetap berupaya menunjukkan tanggung jawab moral dengan memberikan jaminan masa depan bagi para mantan karyawannya. 

Perusahaan secara terbuka berjanji akan memberikan prioritas utama kepada para buruh yang kontraknya tidak diperpanjang ini apabila kondisi perekonomian dunia kembali stabil dan volume pesanan pabrik kembali meningkat di masa mendatang. 

Kasus yang menimpa PT CWII Sragen ini menjadi alarm nyata bagi semua pihak bahwa dinamika geopolitik global memiliki efek domino yang mampu memengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat di tingkat daerah. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#rupiah melelmah #efisiensi ketenagakerjaan #PT CWII #PKWT #phk