RADARTUBAN – Presiden Prabowo Subianto melontarkan pesan keras terkait kedaulatan ekonomi nasional.
Di hadapan anggota parlemen, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus berada dalam posisi pasif ketika menentukan harga komoditas strategis yang justru diproduksi besar-besaran di dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan saat pemaparan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen, Rabu (20/5).
Prabowo menyoroti ironi besar yang selama ini terjadi dalam perdagangan global. Indonesia sebagai produsen utama kelapa sawit, nikel, emas, hingga hasil tambang lainnya justru belum memiliki kendali penuh terhadap harga komoditas tersebut di pasar internasional.
Baca Juga: Prabowo Subianto Sebut Indonesia Tak Panik Hadapi Krisis Dunia karena Sudah Swasembada Pangan
“Kita merasa aneh, kita produsen kelapa sawit terbesar di dunia, tapi harga kelapa sawit ditentukan negara lain. Saya mengatakan kepada menteri-menteri tidak boleh terjadi, saya mau kelapa sawit kita harganya ditentukan oleh bangsa lain, kita tentukan harga kita,” kata Prabowo seperti dikutip dari IDX Channel.
Prabowo Dorong Kedaulatan Harga Komoditas
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin membangun posisi tawar baru dalam perdagangan global.
Selama ini, harga berbagai komoditas strategis Indonesia lebih banyak mengikuti mekanisme pasar internasional yang dikendalikan pusat perdagangan luar negeri.
Prabowo menilai kondisi tersebut sudah saatnya diubah. Indonesia, menurutnya, harus memiliki keberanian menentukan standar harga sendiri sesuai kepentingan nasional.
Mantan Menteri Pertahanan itu bahkan menegaskan Indonesia tidak perlu memaksakan penjualan apabila negara lain tidak bersedia membeli dengan harga yang telah ditentukan pemerintah.
Bukan Sekadar Ekonomi, Tapi Soal Martabat Negara
Pidato Prabowo bukan hanya bicara angka ekspor atau neraca perdagangan. Ada pesan politik ekonomi yang lebih besar: Indonesia ingin keluar dari posisi sekadar pemasok bahan mentah dunia.
Apalagi Indonesia saat ini memegang peran penting dalam rantai pasok global, terutama untuk nikel yang menjadi bahan utama industri kendaraan listrik dunia.
Namun tantangan besar juga menanti. Menentukan harga komoditas secara mandiri membutuhkan kekuatan pasar, konsistensi kebijakan, hingga diplomasi dagang yang solid agar Indonesia tidak justru kehilangan pembeli utama.
Meski demikian, pidato Prabowo memberi sinyal jelas bahwa pemerintah ingin membawa arah baru: dari negara penjual bahan mentah menjadi pemain utama yang ikut menentukan aturan permainan ekonomi global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni