RADARTUBAN - Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas yang memiliki kekayaan fauna luar biasa, salah satunya adalah Pulau Sulawesi yang menyimpan beragam satwa endemik unik.
Di antara sekian banyak satwa khas tersebut, terdapat primata eksotis bernama Macaca nigra, atau yang lebih populer dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan Yaki.
Penampilan fisik primata ini sangat mencolok dan mudah dikenali karena memiliki rambut hitam legam di seluruh bagian tubuhnya serta jambul khas di atas kepalanya yang akan berdiri tegak saat mereka sedang merasa bersemangat atau waspada.
Baca Juga: Tragedi di Pamekasan: Balita 5 Tahun Tewas Diserang Monyet Lepas Kandang
Yaki memiliki sebaran habitat yang sangat terbatas, di mana mereka hanya dapat ditemukan secara alami di wilayah hutan primer bagian utara Pulau Sulawesi serta beberapa pulau kecil di sekitarnya.
Salah satu benteng pertahanan terakhir bagi populasi Yaki adalah kawasan Cagar Alam Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara.
Di kawasan konservasi ini, kelompok-kelompok Yaki hidup secara sosial dan dikenal sangat toleran terhadap kehadiran manusia, sebuah karakteristik unik yang membedakannya dari jenis monyet makaka lainnya.
Makanan utama mereka meliputi buah-buahan hutan, daun muda, serangga, serta hewan kecil, menjadikannya agen penting dalam penyebaran biji tanaman guna menjaga kelestarian hutan.
Sayangnya, di balik pesonanya yang mengagumkan, populasi Yaki terus mengalami penurunan drastis dari tahun ke tahun akibat berbagai faktor ancaman yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Degradasi lahan akibat pembalakan liar dan alih fungsi hutan menjadi area perkebunan secara masif telah mempersempit ruang gerak serta mengurangi ketersediaan pakan alami mereka.
Selain kehilangan rumah tinggal, Yaki juga menghadapi ancaman serius dari maraknya praktik perburuan liar, baik untuk dijadikan hewan peliharaan ilegal maupun untuk dikonsumsi sebagai kuliner ekstrem oleh sebagian masyarakat.
Upaya konservasi yang kolaboratif sangat krusial dilakukan untuk menyelamatkan satwa berambut jambul ini dari jurang kepunahan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama