RADARTUBAN - Sebagian besar masyarakat di wilayah Indonesia bagian selatan belakangan ini merasakan penurunan suhu udara yang cukup drastis, terutama pada waktu malam hingga dini hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah bahwa fenomena udara dingin yang menusuk tulang ini merupakan dampak langsung dari pergerakan Angin Monsun Timur atau yang populer diistilahkan warga net sebagai "angin impor" dari benua Australia.
Fenomena alam tahunan ini terjadi lantaran wilayah Australia saat ini tengah memasuki puncak musim dingin.
Baca Juga: Akan Semakin Panas! Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat Celcius pada Tahun 2030
Perbedaan tekanan udara yang signifikan antara benua Australia yang bertekanan tinggi dan daratan Asia yang bertekanan rendah menyebabkan massa udara kering dan dingin bergerak menyeberangi Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia.
Wilayah-wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara menjadi daerah yang paling merasakan dampak penurunan suhu udara ini secara langsung.
Kondisi langit yang cenderung bersih tanpa awan (clear sky) pada musim kemarau turut mempercepat proses pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer pada malam hari.
Tanpa adanya awan yang bertindak sebagai "selimut" bumi, panas matahari yang diserap pada siang hari akan memancar kembali ke luar angkasa dengan sangat cepat, sehingga memicu suhu udara drop secara signifikan sebelum fajar.
Fenomena ini juga sering kali memunculkan embun es atau "embun upas" di daerah dataran tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan justru menikmati fenomena cuaca dingin ini dengan tetap menjaga imunitas tubuh.
Penggunaan pakaian tebal, jaket, atau selimut ekstra sangat disarankan saat beraktivitas di luar ruangan pada malam hari guna menghindari risiko gangguan kesehatan seperti flu atau infeksi saluran pernapasan.
Pola angin ini diperkirakan akan terus berembus secara berkala hingga musim kemarau di Indonesia mencapai puncaknya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni