RADARTUBAN – Jika beberapa hari terakhir udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, Anda tidak sedang berhalusinasi.
Fenomena tersebut memang mulai terjadi di sejumlah wilayah selatan Indonesia seiring menguatnya pengaruh musim dingin dari Australia.
Akun pemantau cuaca dan iklim Georitmus melalui unggahan di media sosial X menjelaskan bahwa transisi menuju musim dingin di Australia kini semakin jelas terlihat.
Kondisi itu perlahan memengaruhi pola cuaca di Indonesia, khususnya wilayah yang berada di bagian selatan garis khatulistiwa.
“Pergerakan massa udara kering dari Benua Australia makin mendukung tanda monsun timur mulai berkembang dan mendorong udara kering Australia ke selatan Indonesia,” tulis Georitmus.
Awan Berkurang, Malam Jadi Lebih Dingin
Georitmus menjelaskan tutupan awan di wilayah Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur mulai berkurang dibandingkan daerah-daerah yang berada dekat ekuator.
Sekilas kondisi langit cerah mungkin terlihat menyenangkan. Namun secara ilmiah, berkurangnya awan justru membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari.
Akibatnya, suhu udara menjelang dini hari turun lebih cepat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Inilah yang membuat masyarakat mulai merasakan udara yang lebih sejuk bahkan cenderung dingin saat pagi hari.
Belum Puncak, Tapi Efeknya Sudah Terasa
Meski demikian, Georitmus menegaskan kondisi saat ini belum bisa disebut sebagai puncak musim bediding.
“Meski belum bisa disebut musim bediding karena puncak musim dingin Australia terjadi pada Juli–Agustus, tetapi sekarang sudah mulai terasa efeknya,” tulis akun tersebut.
Istilah bediding sendiri cukup akrab di kalangan masyarakat Jawa. Fenomena ini merujuk pada kondisi udara yang terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau.
Waspadai Perubahan Cuaca
Kondisi ini diperkirakan akan semakin terasa dalam beberapa pekan ke depan seiring menguatnya monsun timur.
Selain membuat suhu malam lebih rendah, udara kering juga berpotensi menyebabkan kulit lebih mudah kering, bibir pecah-pecah, hingga meningkatnya risiko gangguan pernapasan bagi kelompok rentan.
Bagi masyarakat di Jawa, Bali, NTB, dan NTT, tanda-tanda kedatangan musim bediding kini mulai terlihat.
Musim dingin Australia memang masih jauh dari puncaknya, tetapi embusan pengaruhnya sudah lebih dulu mengetuk pintu Indonesia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni