Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rupiah Tembus Rp 18 Ribu dan Kenaikan BI Rate Tekan Daya Beli, Industri Asuransi Waspadai Dampak Inflasi

Siti Rohmah • Jumat, 5 Juni 2026 | 10:56 WIB
Rupiah pada Kamis(4/6) Melemah di Level Rp 18.025. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Rupiah pada Kamis(4/6) Melemah di Level Rp 18.025. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

RADARTUBAN - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 18 ribu per dolar Amerika Serikat serta kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke 5,25 persen mulai memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat dan kinerja dunia usaha.

Pelaku industri, termasuk sektor asuransi, menilai kondisi makroekonomi tersebut memiliki dampak langsung terhadap operasional bisnis, terutama pada sektor yang terhubung dengan pembiayaan dan konsumsi barang.

President Director Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, menyampaikan bahwa perubahan indikator ekonomi makro seperti suku bunga dan nilai tukar tidak dapat dihindari dampaknya terhadap pelaku usaha.

“Semua pasti terdampak. Kenaikan suku bunga biasanya berpengaruh pada inflasi dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat,” ujar Maximiliaan di Jakarta, Kamis (4/6).

Baca Juga: Nilai Dolar AS Ambruk Tajam ke Titik Terlemah, Kebijakan Trump Jadi Sorotan Pasar Global

Ia menjelaskan, sektor pembiayaan kendaraan bermotor menjadi salah satu yang paling terdampak, mengingat Asuransi Astra berada pada ekosistem industri otomotif yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Menurut dia, kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan biaya kredit kendaraan, sehingga dapat menurunkan minat pembelian secara cicilan.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dinilai berdampak pada menurunnya daya beli, terutama bagi konsumen yang memiliki eksposur terhadap mata uang asing.

“Untuk klien yang memiliki biaya berbasis valuta asing, tentu juga ikut terdampak,” katanya.

Meski demikian, perusahaan tetap optimistis terhadap pertumbuhan ke depan. Asuransi Astra menyatakan akan mengandalkan strategi diversifikasi bisnis untuk menjaga ketahanan usaha di tengah tekanan ekonomi.

Diversifikasi tersebut dinilai menjadi langkah penting agar perusahaan tetap adaptif dalam menghadapi fluktuasi pasar, khususnya ketika industri otomotif mengalami perlambatan.

“Ke depan kami tetap menargetkan pertumbuhan. Strateginya adalah diversifikasi agar perusahaan tetap resilien dalam berbagai kondisi ekonomi,” ujar Maximiliaan.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#dolar amerika serikat #daya beli #bi rate #nilai tukar rupiah