RADARTUBAN - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui kemungkinan terjadinya pergeseran konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dari produk nonsubsidi ke BBM bersubsidi setelah harga Pertamax mengalami kenaikan.
Namun demikian, pemerintah hingga kini belum menghitung potensi tambahan anggaran subsidi maupun kompensasi yang mungkin timbul akibat perubahan pola konsumsi tersebut.
Purbaya menilai sebagian pengguna Pertamax memang berpotensi beralih ke Pertalite. Meski begitu, ia meyakini perpindahan tersebut tidak akan terjadi secara besar-besaran karena banyak konsumen tetap mempertimbangkan spesifikasi dan kebutuhan kendaraan mereka.
“Pasti ada sebagian yang berpindah, tetapi tidak semuanya. Pengguna Pertamax umumnya memahami jenis bahan bakar yang sesuai untuk kendaraan mereka,” ujar Purbaya, Rabu (17/6).
Baca Juga: Aneh, Sejumlah SPBU Mendadak Kehabisan Stok Pertamax Setelah Harga Pertamax Mendadak Naik
Menurut dia, Kementerian Keuangan saat ini belum memiliki rencana untuk menghitung secara khusus dampak kenaikan harga BBM terhadap kebutuhan tambahan subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Adapun proyeksi besaran peralihan konsumsi diserahkan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai instansi yang berwenang mengawasi sektor energi.
Sementara itu, Kementerian ESDM menyatakan pergeseran konsumsi BBM hingga saat ini masih dalam batas wajar dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyebut perpindahan konsumen yang paling terlihat saat ini berasal dari pengguna Pertamax Turbo yang beralih ke Pertamax.
Meski belum terjadi lonjakan konsumsi Pertalite, pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipatif. Salah satunya melalui penerapan sistem kode batang (QR code) untuk pembelian Pertalite serta peningkatan pengawasan distribusi oleh PT Pertamina.
Anggia juga menegaskan pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, di tengah ketidakpastian harga energi global akibat perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menetapkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter, sementara Biosolar dipertahankan pada level Rp 6.800 per liter.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni