Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gaharu Kalbar Meledak di Pasar Dubai, Harga Fantastis Capai Ratusan Juta per Kg

Amaliya Syafithri • Rabu, 24 Juni 2026 | 08:08 WIB
Ilustrasi pohon gaharu. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi pohon gaharu. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN - Produk hasil hutan non-kayu asal Pulau Kalimantan kembali membuktikan kualitas kelas dunianya di pasar internasional. 

Komoditas kayu gaharu (agarwood) asal Kalimantan Barat dilaporkan berhasil menarik perhatian besar para kolektor dan pengusaha minyak wangi di Timur Tengah hingga harganya mampu menembus angka fantastis mencapai Rp 200 juta per kilogram dalam pameran dagang di Dubai. 

Harga yang luar biasa tinggi ini disebabkan oleh kelangkaan serta kualitas aroma wangi khas dari resin gaharu yang terbentuk secara alami akibat proses infeksi jamur pada pohon genus Aquilaria.

Baca Juga: Dari Potongan Kayu ke Panggung Provinsi: Kisah Iky dan Lentera Torii di SMA Awards Jawa Timur

Sejak zaman dahulu, gubal gaharu memang telah dikenal sebagai salah satu bahan baku paling premium dan mewah di dunia untuk pembuatan parfum, minyak esensial, dupa keagamaan, hingga bahan terapi kesehatan tradisional. 

Proses pembentukannya yang memakan waktu hingga belasan bahkan puluhan tahun di dalam hutan belantara membuat pasokan gaharu berkualitas tinggi menjadi sangat terbatas di pasar global. 

Oleh karena itu, ketika produk gaharu kalimantan yang memiliki karakter aroma pekat dan tahan lama ini dipasarkan ke negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, nilai ekonomisnya langsung melonjak berkali-kali lipat dibandingkan komoditas kayu biasa.

Tingginya minat dan nilai jual gaharu di luar negeri tentunya memberikan angin segar bagi peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat serta para petani lokal di Kalimantan Barat. 

Namun, di sisi lain, tingginya harga komoditas ini juga membawa tantangan besar terkait isu kelestarian lingkungan dan ancaman pembalakan liar di kawasan hutan lindung. 

Pemerintah daerah bersama balai konservasi kini terus mendorong upaya budidaya pohon gaharu secara mandiri melalui metode inokulasi buatan agar produksi resin wangi ini dapat terus berkelanjutan tanpa harus merusak ekosistem hutan alam asli Kalimantan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kayu gaharu #timur tengah #dubai #kalimantan