RADARTUBAN - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan membangun dua akses baru menuju kawasan wisata pemandian air panas Sidebuk-debuk, Kabupaten Karo, setelah kebijakan penghapusan retribusi di lokasi itu disepakati.
Gubernur Sumut Bobby Nasution menegaskan akses pembangunan jalan menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
Bobby menyampaikan, penghapusan pungutan kepada pengunjung merupakan bagian dari upaya menaikan kelas objek pariwisata.
"Kita sudah komitmen tidak ada lagi pungutan kepada pengunjung. Ini langkah awal menaikkan kelas objek pariwisata kita, kemudian akses yang lebih mudah juga sangat penting," Ujar Boby, seperti dikutip dari sumber Kompas.com.
Ia menilai akses yang lebih mudah akan berdampak langsung pada kualitas pelayanan dan minat wisatawan untuk datang kembali.
Bupati Karo Antonius Ginting menjelaskan, dua jalur yang akan dibangun tidak hanya bertujuan mempercepat akses wisatawan, tetapi juga menguraikan kepadatan lalu lintas yang sering terjadi di kawasan Berastagi.
"Tidak hanya mempermudah akses menuju kawasan wisata pemandian air panas di Sidebuk Debuk, tetapi juga membantu mengurangi kemacetan lalu lintas di kawasan Berastagi dan sekitarnya jelang akhir pekan serta hari libur nasional," Tuturnya.
Menurut dia, jalur baru itu akan menghubungkan sejumlah titik strategis menuju kawasan pemandian air panas tersebut.
"Retribusinya dari situ, kemudian masyarakat kita akan bekerja di sana, seperti parkir, pengutip retribusi, petugas kebersihan, dan lainnya. Kita alihkan mereka ke pekerjaannya profesional," jelasnya.
Gubernur Bobby juga menderong pembangunan kampung wisata di kawasan. Akan dikembangkan dengan berbagai fasilitas diantaranya:
Fasilitas tersebut berisikan, Oleh-oleh Khas Daerah, Area Kuliner Atau food court, dan Usaha pendukung pariwisata lainnya.
Ia juga mengatakan bahwa para Pelaku Usaha disana bisa memanfaatkan CSR (tanggung jawab sosial perusahaan). Dana CSR nantinya akan digunakan untuk membangun kampung wisata, dan pengelolaan masyarakat.
Kebijakan tersebut diharapkan menjadi awal perbaikan layanan dan pengelolaan destinasi wisata di Karo. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni