RADARTUBAN – Musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan. Dalam beberapa hari ke depan, tepatnya hingga 29 Juni 2026, sejumlah daerah diperkirakan masih berpotensi mengalami peningkatan curah hujan akibat aktivitas beberapa fenomena atmosfer yang melintasi Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan melalui pemantauan Info Cuaca dan Bencana Indonesia yang mengacu pada perkembangan gangguan atmosfer, yakni Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby.
Ketiga fenomena ini diketahui mampu meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah yang dilintasinya.
Baca Juga: Sudah Musim Kemarau, Kenapa Tuban Masih Diguyur Hujan? Ini Penjelasan BMKG
MJO Aktif di Aceh dan Sumatera Utara
Selama 23–29 Juni, aktivitas MJO diperkirakan hanya dominan di Aceh dan Sumatera Utara.
Fenomena ini bergerak dari barat ke timur dan berpotensi meningkatkan intensitas hujan di kedua wilayah tersebut.
Gelombang Kelvin Melintasi Kalimantan hingga Jawa
Sementara itu, gelombang Kelvin diprediksi aktif di beberapa wilayah secara bertahap. Pada 23 Juni, dampaknya berpotensi dirasakan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Papua Barat.
Memasuki 24 Juni, wilayah terdampak meliputi Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat.
Sedangkan pada 28–29 Juni, potensi peningkatan hujan bergeser ke Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, hingga Bali.
Rossby Dominan di Indonesia Timur
Di sisi lain, gelombang Rossby aktif di Papua Selatan pada 23 Juni. Selanjutnya, pada 24–29 Juni, fenomena ini berpotensi memengaruhi Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Barat Daya, Maluku Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, banjir lokal, genangan, tanah longsor, angin kencang disertai petir, hingga gelombang tinggi di perairan tertentu.
Meski kemarau telah berlangsung, dinamika atmosfer tetap dapat memicu cuaca ekstrem.
Karena itu, masyarakat disarankan terus memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG sebagai rujukan resmi sebelum beraktivitas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni