Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bahlil Resmikan Mini LNG Rp 1,1 Triliun di Tuban, Pasokan Diprioritaskan untuk Dalam Negeri

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 26 Juni 2026 | 17:23 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (tengah) didampingi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky (dua dari kiri) dan jajaran petinggi SAG meresmikan Mini LNG Plant di Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Tuban kemarin (25/6). (M. MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (tengah) didampingi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky (dua dari kiri) dan jajaran petinggi SAG meresmikan Mini LNG Plant di Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Tuban kemarin (25/6). (M. MAHFUDZ MUNTAHA/RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Upaya memperkuat ketahanan energi nasional terus dilakukan pemerintah.

Salah satunya melalui pengoperasian Mini Liquefied Natural Gas (LNG) Plant milik PT Sumber Aneka Gas (SAG) di Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, yang diresmikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, kemarin (25/6).

Fasilitas pengolahan gas bumi tersebut diproyeksikan menjadi bagian penting dalam rantai pasok energi nasional. Selain memproduksi LNG, kilang ini juga menghasilkan Compressed Natural Gas (CNG), Liquefied Petroleum Gas (LPG), dan kondensat yang seluruhnya telah memiliki pasar di sektor industri.

“Produk yang dihasilkan bukan hanya LNG, tetapi juga CNG, LPG, dan kondensat. Dan semuanya sudah terserap di industri,” kata Bahlil saat sambutan peresmian.

Baca Juga: Bahlil Dijadwalkan Kunjungi Tuban Kamis Besok, Ini Jadwal Lengkapnya untuk Resmikan Mini LNG

Dalam konferensi pers, dia juga mengingatkan pentingnya kepastian usaha bagi investor. Bahlil meminta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) menjaga konsistensi kontrak kerja sama yang telah disepakati agar iklim investasi tetap kondusif.

Menurut dia, investasi yang digelontorkan untuk pembangunan Mini LNG Plant PT SAG mencapai sekitar Rp 1,1 triliun.

Karena itu, perubahan kontrak yang terjadi di tengah jalan berpotensi mengganggu perhitungan bisnis dan tingkat keuntungan yang diharapkan investor. 

“Support terus, pegang itu kontrak. Jangan diubah-ubah terus kontraknya. Kita harus memberikan kepastian,” ujar Ketua Umum Partai Golkar itu. 

Bahlil menilai kepastian regulasi dan kontrak menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor, terutama pada sektor energi yang membutuhkan investasi besar dan berjangka panjang.

Bahlil juga memastikan bahwa produksi LNG dari fasilitas PT SAG tidak akan diarahkan untuk pasar ekspor. Seluruh hasil produksi diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang terus meningkat, terutama bagi sektor industri dan kelistrikan.

Menurut Bahlil, kebijakan itu sejalan dengan upaya pemerintah menjaga ketahanan energi nasional melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya gas bumi di dalam negeri. Karena itu, pasokan LNG dari berbagai fasilitas pengolahan gas di Indonesia akan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Terkait adanya penyesuaian harga LNG di sejumlah wilayah, Bahlil menjelaskan hal tersebut dipengaruhi oleh distribusi pasokan yang masih bergantung pada pengiriman antarpulau.

Sebagian kebutuhan LNG di Pulau Jawa, misalnya, masih dipasok dari Kalimantan dan wilayah kepulauan lainnya sehingga memunculkan tambahan biaya logistik dalam rantai distribusi. “Sehingga perlu penyesuaian harga, tetapi untuk stok aman,” ujarnya.

Dia menegaskan, meski terjadi penyesuaian harga, ketersediaan pasokan LNG nasional dalam kondisi mencukupi. Pemerintah terus mengupayakan pemerataan distribusi energi agar kebutuhan industri maupun masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Baca Juga: Bahlil Ultimatum PLN: Saya Sudah Tegas, Jangan Ada Lagi Pemadaman Listrik di Daerah

Sementara itu, Direktur Utama PT Sumber Aneka Gas Agustus Sani Nugroho menjelaskan, Mini LNG Plant tersebut dilengkapi fasilitas penyimpanan kriogenik berkapasitas 1.600 meter kubik.

Kilang ini mampu mengolah gas bumi hingga 15 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) yang bersumber dari Sumur Sumber 1-A, lapangan yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java (PHE TEJ).

Pasokan gas dari sumur tersebut direncanakan berlangsung hingga tahun 2036, sehingga memberikan jaminan ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang.

Selama Agustus tercatat, fasilitas itu mampu memproduksi LNG hingga 55.300 ton per tahun. Selain itu, kilang juga menghasilkan LPG dengan kapasitas maksimal 9.800 ton per tahun dan kondensat hingga 19.600 barel per tahun.

Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga dilengkapi fasilitas pengolahan CNG dengan kapasitas mencapai 6 MMSCFD. “Mini LNG plant ini menyasar pengguna akhir dari sektor industri, retail, hingga pembangkit listrik yang tersebar di Jawa, Bali, sampai Sulawesi,” kata Agustus.

Beroperasinya fasilitas ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan gas bumi sebagai energi alternatif yang lebih bersih sekaligus mendukung target pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi sektor industri dan kelistrikan. (fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Mini LNG #Tuban #bahlil lahadalia #Merakurak