RADARTUBAN - Nurayendra Irwindo atau yang lebih dikenal sebagai Winky Wiryawan membagikan pesan berharga yang pernah dia terima dari sang kakek, seorang mantan tentara yang pernah terlibat dalam perang.
Suami model dan pemeran Kanes Andari itu dikenal sebagai sosok yang telah lama berkecimpung di dunia hiburan Tanah Air, baik sebagai DJ, aktor, maupun presenter.
Winky merupakan putra pasangan Widodo Soenarko, pengusaha sepatu kulit di Bandung, dan Vita Devi Irwanti. Pria kelahiran 1978 itu juga memiliki latar belakang keluarga militer karena sang kakek berpangkat Mayor Jenderal.
Baca Juga: Kisah Masa Muda Kiai Hisyam, Ulama Tuban yang Pernah Ingin Jadi Tentara
Pesan dari sang kakek diungkapkan Winky saat menjadi bintang tamu dalam podcast di kanal YouTube Agak Laen Official.
"Gue dulu sama kakek gue diajarin cuma satu, karena dia tentara, sempat ikut perang, kapanpun nyawa bisa diambil," ujar Winky.
Menurut Winky, sang kakek selalu mengajarkan pentingnya bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini.
"Dia cuma selalu bilang, dulu, buat kita bisa hidup hari ini, bisa selamat dari serangan, udah bersyukur, jadi Wink, inget kamu mau sampai kapanpun jalani aja," ungkapnya.
Pesan tersebut membentuk cara pandang Winky dalam menjalani kehidupan. Ia mengaku menjadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk saat mengalami kebahagiaan maupun kesedihan.
Winky mengaku belajar untuk tidak larut terlalu lama dalam emosi.
"Pokoknya harus bisa kamu turunkan dalam waktu cepat," tambahnya.
Pesan sang kakek itu kemudian membentuk kebiasaannya untuk menjalani hidup tanpa terlalu melekat pada rasa bahagia maupun kecewa secara berlebihan.
Menurut Winky, emosi tidak seharusnya disimpan terlalu lama di dalam hati dan pikiran.
Ia bahkan mengaku pernah belajar kepada seorang guru di Bali selama dua tahun untuk menetralkan emosi agar dapat kembali ke titik nol setelah merasakan euforia maupun kesedihan.
Winky mengatakan pola pikir tersebut membuat dirinya lebih santai saat menghadapi kehilangan maupun keberhasilan.
Baginya, apa pun yang datang dalam hidup dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, hal terpenting adalah tidak membiarkan perasaan menguasai diri terlalu lama. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama