RADARTUBAN - Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menghapus materi latihan menembak dalam program pelatihan bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Kebijakan tersebut diambil setelah dilakukan evaluasi menyusul meninggalnya sejumlah peserta selama mengikuti pelatihan.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan perubahan dilakukan sebagai bagian dari penyempurnaan program pelatihan.
Rico membenarkan video latihan menembak peserta SPPI yang beredar di media sosial merupakan dokumentasi kegiatan yang memang pernah dilaksanakan. Namun, menurutnya, aktivitas tersebut berlangsung sebelum hasil evaluasi terbaru diterapkan.
"Dokumentasi latihan menembak yang beredar merupakan kegiatan yang dilaksanakan pada pekan lalu, sebelum adanya evaluasi terhadap pelaksanaan program," ujar Rico, Senin.
Baca Juga: 78 Desa di Tuban Belum Bisa Bangun KDKMP karena Terkendala Ini
Sebagai tindak lanjut dari evaluasi tersebut, Kemhan melakukan penyesuaian konsep pelatihan. Program yang sebelumnya dikenal sebagai Latihan Dasar Militer (Latsarmil) kini diubah menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial dengan materi yang disesuaikan bagi peserta berlatar belakang sipil.
Dalam skema baru tersebut, berbagai kegiatan yang bersifat teknis maupun taktis militer, termasuk latihan menembak, tidak lagi dimasukkan ke dalam kurikulum pelatihan. Selain itu, intensitas aktivitas fisik juga dikurangi agar lebih sesuai dengan kondisi dan karakteristik peserta.
Menurut Rico, fokus pelatihan kini diarahkan pada penguatan disiplin, pembentukan karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta peningkatan kemampuan manajerial yang dibutuhkan calon pengelola koperasi.
Gelombang pertama program pelatihan berlangsung mulai 17 Juni hingga 31 Juli 2026 dengan jumlah peserta mencapai 35.476 orang. Rinciannya terdiri atas 30 ribu calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.
Selama sekitar 10 hari pelaksanaan program, tercatat lima peserta meninggal dunia. Mereka adalah Nola Dya Sari, Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.
Nola Dya Sari, peserta pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara Kalimantan, meninggal pada 26 Juni 2026 setelah mengalami keluhan sesak napas dan demam.
Pada hari yang sama, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, peserta di Satuan Pendidikan Batalyon Para Komando (Yonko) 465 Jakarta Timur, juga meninggal dunia setelah mengalami gejala serupa. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas.
Sementara itu, Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, meninggal pada 23 Juni 2026 akibat tuberkulosis (TBC) aktif.
Peserta lainnya, Anisa Muyassaroh, meninggal sehari setelah pelatihan dimulai, yakni pada 18 Juni 2026, akibat heat stroke saat mengikuti kegiatan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Baca Juga: Menhan Sjafrie Evaluasi Total Latsarmil Koperasi Merah Putih Usai 5 Peserta Meninggal
Adapun Yonanda Muhammad Taufiq meninggal pada hari pertama pelatihan, 17 Juni 2026, akibat henti jantung (cardiac arrest).
Kemhan menegaskan evaluasi terhadap pelaksanaan program akan terus dilakukan guna memastikan seluruh materi pelatihan berjalan lebih aman, proporsional, dan sesuai dengan tujuan utama pembentukan karakter serta kemampuan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni