RADARTUBAN – Persaingan industri pertahanan di kawasan Asia Tenggara semakin menarik perhatian.
Di tengah meningkatnya ancaman konflik modern dan serangan berbasis ranjau darat maupun Improvised Explosive Device (IED), sejumlah negara ASEAN mulai memperkuat kemampuan memproduksi kendaraan antiranjau atau Mine Resistant Ambush Protected (MRAP).
Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul fakta yang cukup mencolok: hanya Thailand yang berhasil menghadirkan desain asli. Sementara Indonesia dan Malaysia masih mengandalkan produksi berbasis lisensi.
Mengutip data yang dirangkum 3M Magazine menempatkan tiga kendaraan MRAP sebagai representasi kemampuan industri pertahanan ASEAN.
Yakni Chaiseri First Win dari Thailand, DefTech AV4 Lipan Bara milik Malaysia, dan Hanoman 4x4 produksi Indonesia.
Baca Juga: Ranking FIFA Juni 2026 Naik, Timnas Indonesia Terus Tekan Thailand dan Vietnam
Thailand Unggul Berkat Desain Mandiri
Thailand menjadi negara yang paling menonjol melalui Chaiseri First Win.
Kendaraan berkonfigurasi 4x4 MRAP tersebut dikembangkan sepenuhnya dengan desain asli oleh industri pertahanan dalam negeri.
Keunggulan ini menunjukkan kemampuan Thailand tidak hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai pengembang teknologi kendaraan tempur yang mampu disesuaikan dengan kebutuhan operasional militernya sendiri.
Indonesia dan Malaysia Masih Berbasis Lisensi
Sementara itu, Malaysia memproduksi DefTech AV4 Lipan Bara, sedangkan Indonesia menghadirkan Hanoman 4x4.
Keduanya sama-sama mengusung konfigurasi 4x4 MRAP, tetapi diproduksi melalui skema lisensi dari teknologi yang telah lebih dulu dikembangkan pihak lain.
Meski demikian, langkah tersebut tetap menjadi fondasi penting untuk memperkuat kapasitas manufaktur pertahanan nasional sekaligus membuka peluang transfer teknologi kepada industri lokal.
Industri Pertahanan ASEAN Terus Berkembang
Dalam keterangannya, 3M Magazine menyebut, sejumlah negara di ASEAN telah mengembangkan kendaraan antiranjau (MRAP) untuk meningkatkan perlindungan personel dari ranjau darat dan serangan improvisasi (IED).
"Thailand menjadi satu-satunya dalam daftar ini yang mengembangkan desain asli melalui Chaiseri First Win, sementara Malaysia dan Indonesia memproduksi kendaraan berbasis lisensi melalui DefTech AV4 Lipan Bara dan Hanoman 4×4." tulis media tersebut.
Baca Juga: Berikut Tips Anti Karat untuk Kendaraan Anda Saat Hujan!
Kehadiran kendaraan-kendaraan ini menunjukkan meningkatnya kemampuan industri pertahanan ASEAN dalam memenuhi kebutuhan mobilitas dan perlindungan pasukan modern.
Meski Indonesia belum memiliki desain MRAP yang sepenuhnya lahir dari pengembangan domestik, keberadaan Hanoman 4x4 menunjukkan industri pertahanan nasional terus bergerak menuju kemandirian.
Tantangan berikutnya bukan sekadar memproduksi, melainkan mampu melahirkan platform tempur yang benar-benar dirancang, dikembangkan, dan disempurnakan oleh anak bangsa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni