RADARTUBAN – Harapan masyarakat akan konektivitas laut yang lebih cepat antara Banyuwangi dan Bali harus terhenti lebih cepat dari yang dibayangkan.
Setelah beroperasi sekitar satu tahun, Kapal Cepat Express Bahari 1F resmi menghentikan layanan penyeberangan rute Marina Boom Banyuwangi–Pelabuhan Serangan, Denpasar, mulai Kamis (2/7).
Keputusan tersebut diumumkan langsung melalui akun resmi manajemen Express Bahari.
Berakhirnya operasional ini sekaligus menutup perjalanan salah satu moda transportasi laut yang sempat digadang-gadang menjadi alternatif praktis bagi wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis menuju Pulau Dewata.
Baca Juga: Evakuasi Cepat 69 Penumpang Kapal KM Aquarius One di Pulau Putri
Berakhir Setelah Satu Tahun Melayani
Sejak soft launching pada Juli 2025, Express Bahari 1F melayani rute Banyuwangi–Denpasar pulang pergi dengan jadwal libur operasional setiap hari Selasa.
Kapal berkapasitas sekitar 400 penumpang itu sempat menarik perhatian karena memangkas waktu perjalanan dibandingkan jalur darat yang harus memutar melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk.
Pada musim mudik Idul Fitri 2026, kapal tersebut bahkan sempat dialihkan sementara ke Pelabuhan Jangkar untuk melayani lintasan Situbondo–Kepulauan Raas.
Setelah kembali bersandar di Marina Boom pada pertengahan April, layanan akhirnya tidak bertahan lama hingga resmi dihentikan.
Murni Keputusan Bisnis Perusahaan
Kepala UPT Pelabuhan Pengumpan Regional Banyuwangi, Yohanes Heri Kriswirawan, membenarkan penghentian operasional kapal cepat tersebut.
"Kapal ini murni swasta, jadi tidak ada subsidi. Mungkin ada pertimbangan dari perusahaan," ujarnya dikutip dari Radar Banyuwangi.
Menurut Heri, keputusan menghentikan rute tersebut sepenuhnya merupakan kebijakan operator sebagai perusahaan pelayaran swasta yang tentu mempertimbangkan aspek bisnis dan keuntungan operasional.
Jadi Catatan bagi Transportasi Laut
Berhentinya layanan Express Bahari 1F menunjukkan bahwa membuka rute baru tidak cukup hanya mengandalkan potensi pasar.
Konsistensi jumlah penumpang, efisiensi operasional, hingga keberlanjutan model bisnis menjadi faktor penentu umur sebuah layanan transportasi.
Meski rute ini resmi berakhir, kebutuhan akan konektivitas laut cepat antara Banyuwangi dan Denpasar tetap besar.
Tantangan berikutnya adalah menghadirkan skema layanan yang lebih berkelanjutan agar jalur strategis tersebut tidak hanya menjadi proyek sesaat, tetapi benar-benar mampu bertahan dalam jangka panjang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni