RADARTUBAN - Di atas hamparan laut Asia Tenggara yang menjadi jalur perdagangan dunia, persaingan kekuatan maritim Indonesia dan Malaysia terus menjadi sorotan.
Jika dilihat dari angka, Indonesia tampil jauh lebih dominan. Namun dalam dunia militer modern, kemenangan tidak pernah dihitung hanya dari banyaknya kapal perang.
Data perbandingan yang dirilis akun Info Dunia Militer menunjukkan Indonesia mengoperasikan lebih dari 326 kapal aktif.
Terdiri atas 4 kapal selam, 9 fregat, 46 korvet, 187 kapal patroli, serta 36 kapal amfibi.
Jumlah tersebut menjadikan TNI Angkatan Laut sebagai armada terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga: Ribuan Keramik Kuno Jadi Bukti Kejayaan Laut Tuban Mendominasi Koleksi Museum Kambang Putih
Besarnya armada itu sejalan dengan tanggung jawab Indonesia yang harus mengamankan lebih dari 17 ribu pulau, perairan nasional yang sangat luas, hingga sejumlah jalur pelayaran internasional yang strategis.
Malaysia Pilih Jalur Modernisasi Armada
Di sisi lain, Malaysia memiliki sekitar 97 kapal aktif, termasuk 2 kapal selam Scorpene, 7 fregat, dan 7 korvet.
Meski secara jumlah tertinggal cukup jauh, Negeri Jiran memilih fokus pada peningkatan kualitas tempur.
Modernisasi kapal perang, pengembangan program Littoral Combat Ship (LCS), hingga peningkatan teknologi sensor dan sistem persenjataan menjadi strategi utama Angkatan Laut Diraja Malaysia dalam membangun kekuatan yang lebih efisien.
Jumlah Kapal Bukan Jaminan Menang Perang
Pengamat pertahanan berulang kali mengingatkan bahwa kekuatan angkatan laut tidak bisa diukur hanya dari kuantitas armada.
Teknologi radar, rudal, peperangan elektronik, kesiapan personel, logistik, kemampuan intelijen hingga industri pertahanan dalam negeri justru menjadi faktor yang menentukan efektivitas tempur.
Data Info Dunia Militer menegaskan Indonesia unggul dalam kapasitas armada, cakupan operasi, dan kemampuan amfibi.
Sebaliknya, Malaysia lebih menitikberatkan pembangunan armada yang lebih ringkas namun modern.
Baca Juga: AS Serang Fasilitas Militer Iran Usai Kapal Dagang Diserang di Selat Hormuz
Tantangan Indonesia Tak Berhenti pada Jumlah Armada
Dominasi jumlah kapal memang menjadi modal strategis Indonesia. Namun tantangan sebenarnya justru menjaga seluruh armada tetap siap tempur di tengah wilayah operasi yang sangat luas.
Modernisasi alutsista, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan industri pertahanan nasional menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda.
Sebab di era peperangan modern, kapal perang sebanyak apa pun tidak akan memberikan efek gentar apabila tidak didukung teknologi mutakhir, sistem persenjataan terintegrasi, dan kesiapan operasi yang tinggi.
Di sinilah perlombaan sesungguhnya sedang berlangsung antara Indonesia dan Malaysia dalam menjaga kedaulatan maritim masing-masing. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni