RADARTUBAN - Peta persaingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali menunjukkan siapa pemain paling perkasa dalam mencetak keuntungan. Hingga April 2026, PT Pertamina (Persero) masih berdiri kokoh sebagai BUMN dengan laba terbesar di Indonesia, mengungguli deretan bank pelat merah yang terus membayangi dari belakang.
Data yang dikutip dari GoodStats mencatat Pertamina membukukan laba mencapai Rp 24, 972 triliun, menjadikannya pemimpin daftar 10 BUMN paling menguntungkan.
Tepat di belakangnya, Bank Mandiri mengoleksi laba Rp 21,344 triliun, disusul Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp 21,266 triliun.
Persaingan dua bank raksasa itu berlangsung sangat ketat. Selisih laba keduanya hanya sekitar Rp 78 miliar, angka yang menunjukkan kompetisi sektor perbankan nasional semakin sengit.
Tiga Raksasa Kuasai Sebagian Besar Keuntungan
Dominasi Pertamina, Mandiri, dan BRI bukan sekadar soal peringkat. Ketiganya secara bersama-sama mengumpulkan laba sekitar Rp 67,582 triliun, atau hampir dua pertiga dari total keuntungan 10 BUMN terbesar.
Di posisi berikutnya terdapat MIND ID dengan laba Rp 14,107 triliun, disusul BNI (Rp 7,295 triliun), Pupuk Indonesia (Rp 4,826 triliun), Pegadaian (Rp 4,381 triliun), BSI (Rp 2,805 triliun), Pelindo (Rp 1,482 triliun), dan BTN (Rp 1,453 triliun).
Data tersebut memperlihatkan sektor energi dan jasa keuangan masih menjadi mesin utama penghasil keuntungan bagi BUMN.
Perbankan Jadi Pilar Profit Negara
GoodStats juga mencatat lima perusahaan keuangan milik negara, yakni Mandiri, BRI, BNI, BSI, dan BTN, secara kolektif menghasilkan laba Rp 54,163 triliun.
Nilai itu mendekati separuh total laba yang dibukukan 10 BUMN teratas.
Fakta tersebut memperlihatkan bahwa sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung profitabilitas BUMN, sementara Pertamina masih menjadi lokomotif utama berkat besarnya skala bisnis energi nasional.
Tantangan Berikutnya Bukan Sekadar Mencetak Laba
Besarnya laba tentu menjadi indikator positif bagi kinerja perusahaan negara. Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya mempertahankan keuntungan.
Melainkan memastikan laba tersebut mampu diterjemahkan menjadi investasi, pelayanan publik yang lebih baik, hingga kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, konsistensi menjaga profit sekaligus meningkatkan efisiensi akan menjadi ujian besar bagi BUMN.
Sebab, perusahaan negara tak hanya dituntut mencetak angka fantastis di laporan keuangan, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan negara. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni