RADARTUBAN - Pemerintah berhasil menurunkan angka kematian jemaah haji 2026 hingga sekitar 25 persen jika dibandingkan dengan angka kematian pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, jumlah jemaah wafat yang dinilai masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah.
pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Gus Iran Yusuf (Gus Irfan).
"Secara nasional, angka kematian jemaah pada penyelenggaraan Haji 2026 berhasil direkam sekitar 25 persen, dibandingkan tahun sebelumnya," Kata menhaj
Baca Juga: Tembus 719 Pendaftar dalam Sebulan, Intip Tren Lonjakan Warga Tuban yang Berburu Porsi Haji
Menhaj, menekankan bahwa capaian penurunan 25 persen ini tetap harus ditingkatkan pada penyelenggaraan Haji berikutnya.
Hal ini menjadi perhatian serius terutama karena faktor kesehatan telah menyebabkan penundaan keberangkatan bagi 345 calon jamaah haji pada tahun ini.
"Ketidaklayakan kesehatan seharusnya sudah diketahui sejak pemeriksaan awal agar jamaah tidak mengalami kekecewaan ketika telah sampai di embarkasi," Turunnya.
Ia menegaskan pentingnya memetakan jemaah risiko tinggi sejak awal demi memastikan bentuk penanganan medis serta pola pendampingan yang akan diberikan selama mereka berada di tanah suci.
"Kita ingin mengetahui sejak awal siapa yang memiliki risiko tinggi, intervensi apa yang harus dilakukan, dan bagaimana pendampingannya selama penyelenggara haji," ujar Gus Irfan.
Menhaj berharap ke depannya, ia menginginkan agar status kelayakan keberangkatan jemaah sudah dipastikan jauh-jauh hari, sehingga tidak ada lagi pembatalan mendadak ketika jamaah telah memasuki asrama haji.
"Pemeriksaan harus dilakukan lebih awal, lebih akurat, dan benar-benar menggambarkan kondisi kesehatan calon jemaah," Imbuhnya.
Gus Irfan, menekankan agar tes kesehatan jamaah haji benar-benar dipakai untuk mendeteksi potensi risiko kesehatan jemaah sejak awal, bukan hanya dijadikan formalitas administrasi demi bisa berangkat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni