RADARTUBAN – Jalur laut sempit yang tampak biasa di peta ternyata menjadi penentu denyut perdagangan global.
Setiap hari, ribuan kapal kargo, kapal tanker minyak, hingga pengangkut gas alam cair (LNG) melintasi selat-selat strategis untuk menghubungkan pusat produksi dengan pasar dunia.
Dilansir dari 3M Magazine, sebuah daftar yang disusun berdasarkan berbagai kajian maritim menempatkan 10 selat paling strategis bagi perdagangan dunia.
Penyusunan tersebut mempertimbangkan peran terhadap perdagangan internasional, keamanan pelayaran, serta kepentingan geopolitik, dan bukan merupakan peringkat resmi dari satu lembaga.
Baca Juga: Berawal dari Laporan Instagram, Imigrasi Bongkar Praktik Dokter Ilegal WN Vietnam di Jakarta Selatan
Indonesia Masuk Lewat Dua Jalur Penting
Dalam daftar tersebut, Selat Hormuz berada di posisi pertama karena menjadi jalur utama distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.
Sementara itu, Selat Malaka, yang berada di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura, menempati posisi kedua.
Jalur ini dikenal sebagai salah satu koridor pelayaran tersibuk di dunia karena menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan.
Tak hanya itu, Indonesia juga kembali muncul melalui Selat Sunda di posisi kesembilan.
Meski lalu lintasnya tidak sepadat Selat Malaka, jalur ini tetap menjadi alternatif penting bagi pelayaran internasional.
Bukan Sekadar Jalur Kapal
Daftar tersebut juga memuat Bab el-Mandeb, Bosporus, Selat Taiwan, Selat Gibraltar, Dardanella, Selat Dover, hingga Selat Bering.
Masing-masing memiliki nilai strategis karena menjadi penghubung kawasan ekonomi utama sekaligus titik sensitif dalam dinamika politik global.
Gangguan di salah satu selat itu dapat memicu efek berantai, mulai dari keterlambatan distribusi barang, lonjakan biaya logistik, hingga kenaikan harga energi di berbagai negara.
Geografi Jadi Kekuatan Strategis Indonesia
Masuknya Selat Malaka dan Selat Sunda dalam daftar ini menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia bukan sekadar keuntungan alam, tetapi juga aset strategis bernilai tinggi.
Di tengah meningkatnya perdagangan global dan rivalitas geopolitik, menjaga keamanan jalur pelayaran menjadi kepentingan bersama.
Ketika satu selat terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan negara di sekitarnya, melainkan juga dapat mengguncang rantai pasok dan stabilitas ekonomi dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni