Sempat Tolak Nomor +62, Entourage Bali Akhirnya Mengakui Kesalahan dan Minta Maaf 

Ika Nur Jannah • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 16:21 WIB
Event lari Bali Silent Disco yang diselenggarakan oleh Entourage Bali. (Tangkapan Layar Video Instagram/@entourage.bali)
Event lari Bali Silent Disco yang diselenggarakan oleh Entourage Bali. (Tangkapan Layar Video Instagram/@entourage.bali)

RADARTUBAN - Komunitas Entourage Bali menyampaikan permintaan maaf usai terseret dugaan diskriminasi terhadap warga negara Indonesia (WNI) dalam sebuah kegiatan lari di Canggu, Bali. 

Sebagai bentuk tanggung jawab, Komunitas itu juga menghentikan sementara seluruh kegiatannya dan akan melakukan evaluasi 

"Kami menghentikan sementara untuk acara dan kegiatan kami saat ini. Kami bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi dan berjanji akan membuat perubahan nyata kedepannya," kata Entourage Bali lewat unggahan Instagram.

Baca Juga: Inilah Makna dan Cerita di Balik Lagu Bunga di Tepi Jalan, Mahakarya Abadi dari Koes Plus

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menjatuhkan sanksi penakalan terhadap dua warga negara Belanda yang diduga terkait penyelenggaraan Entourage Run di Canggu. 

Dua WNA tersebut berinisial JAS (35) dan HQV (37). Keduanya kini telah berada di luar Indonesia dan dimasukkan ke dalam daftar cekal.

Dalam klarifikasinya lewat Instagram @etnourage.bali menegaskan pihaknya tidak pernah berniat bermaksud mendiskriminasi siapa pun. 

Komunitas itu juga meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung atas peristiwa tersebut.

"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang telah merasa tersinggung dan tersakiti, dan kami tidak pernah bermaksud untuk tidak menghormati atau membeda-bedakan (mendeskriminasi) siapapun," ungkapnya

Dalam penjelasannya, Entourage Bali menyebut wadah ini awalnya sebagai upaya para digital nomad di Bali punya punya ruang untuk berkumpul dan bersosialisasi.

Mereka memantau adanya batasan kewarganegaraan karena anggotanya sendiri berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. 

Pihak komunitas juga menekankan bahwa banyak kegiatan mereka yang sifatnya kreatif dan bisa diikuti siapa saja, meski beberapa acara memang punya ketentuan khusus tergantung tujuannya.

"Sebagai contoh, acara tertentu dirancang khusus untuk digital nomad, sementara yang lainnya, seperti jalan santai wanita (women's walks) dan lokarya, ditunjukkan khusus untuk peserta perempuan," jelasnya dalam memberikan klarifikasi.

Entourage Bali menegaskan bahwa program klub lari rutin mereka sejauh ini selalu terbuka untuk umum tanpa pendaftaran. 

Baca Juga: Mengapa Ada Stroberi Rp300 Ribu? Fenomena Supermarket Mewah di AS dan Gengsi di Balik Makanan Premium

Khusus untuk agenda silen disco Run pada Rabu (22/7), tiket diberlakukan karena keterbatasan unit handphone. 

Pihak penyelenggara bahkan mengklaim bahwa mayoritas peserta yang hadir dalam acara bertingkat tersebut merupakan Warga negara Indonesia. 

"Warga negara Indonesia merupakan kelompok peserta terbesar, mewakili hampir 25 persen dari seluruh tingkat yang terjual," lanjutnya. 

Pihaknya mengakui adanya kesalahan pada sistem persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp serta kegiatan lari mereka. 

Niat awal memfasilitasi ruang kumpul para digital nomad diakui justru menciptakan bias yang berdampak pada penolakan sejumlah nomor telepon Indonesia (+62). 

"Namun, kami telah melakukan kesalahan dalam proses persetujuan otomatis untuk grup WhatsApp dan acara non lari kami," tulis Entourage Bali. 

Dalam pernyataan resminya, mereka mengonfirmasi terjadinya kesalahan teknis tersebut yang menyebabkan beberapa warga tertolak secara tidak tepat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Entourage Bali panitia lari lomba