RADARTUBAN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperluas di berbagai daerah. Namun, di balik masifnya operasional dapur yang telah berjalan, Badan Gizi Nasional (BGN) justru menemukan persoalan mendasar: rendahnya kedisiplinan pelaporan digital dari satuan kerja di lapangan.
Data terbaru menunjukkan lebih dari 27 ribu dapur telah aktif beroperasi. Sayangnya, implementasi Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) masih jauh dari target.
Dari puluhan ribu satuan kerja tersebut, baru 5.736 yang mengadopsi sistem terintegrasi, sementara kelengkapan pendataan form organoleptik juga dinilai masih sangat minim.
Sudaryono Keluarkan Peringatan Tegas
Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menegaskan persoalan ini tidak bisa lagi ditoleransi.
"Terdapat 27.000 sekian dapur aktif beroperasi. Namun kedisiplinan melaporkan tugas ke dalam Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) masih menuntut perbaikan," ujar mantan Wakil Menteri Pertanian itu.
Karena itu, BGN menetapkan tenggat waktu yang wajib dipenuhi seluruh jajaran.
"Kamis minggu depan, seluruh pelaporan wajib masuk sistem digital. Kelalaian administrasi akan menjadi tolok ukur karier setiap personel BGN. Dana warga harus terawasi hingga titik akhir distribusi," tegas Sudaryono.
Disiplin Bukan Sekadar Administrasi
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen utama untuk memastikan setiap rupiah dana publik dapat dipertanggungjawabkan.
Pelaporan yang tertib akan memudahkan pengawasan distribusi makanan, evaluasi kualitas layanan, hingga pencegahan penyimpangan.
Sudaryono juga mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa kedisiplinan sumber daya manusia.
"Sistem terbaik tak akan berjalan bila kedisiplinan manusianya tertinggal. BGN berbenah," kata Politisi Partai Gerindra itu.
Ultimatum ini menjadi sinyal bahwa BGN tengah memperketat tata kelola internal.
Di tengah besarnya anggaran dan tingginya harapan masyarakat terhadap program MBG, disiplin administrasi kini bukan lagi urusan teknis, melainkan ukuran integritas sekaligus profesionalisme setiap personel di lapangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni