RADARTUBAN - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa kondisi rusaknya sekolah di Grobogan, Jawa Tengah, sudah terjadi sebelum program makan bergizi gratis (MBG) berjalan.
Ia menolak anggapan bahwa kerusakan bangunan sekolah itu dipicu oleh pelaksanaan program tersebut.
"Dulu Enggak ada MBG, kan sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG. Betul enggak? Kita objektif saja, sekolah itu memang rusak sebelum ada program MBG. Ini sekarang oleh Presiden diperbaiki apa-apa," Ungkapnya
Masyarakat diimbau oleh sudaryono untuk menyikapi kerusakan fasilitas sekolah secara lebih bijaksana, yakni dengan menyampaikan aduan melalui saluran resmi kementerian pendidikan dasar dan menengah (Kemendikdasmen).
Ia menilai membandingkan kondisi kerusakan sekolah dengan program pemerintah lainnya kurang tepat.
Baca Juga: Komisi IX DPR Desak BGN Benahi Total MBG, Keselamatan Anak Tak Boleh Lagi Dipertaruhkan
Menurutnya, langkah terbaik saat menemukan fasilitas pendidikan yang rusak adalah memanfaatkan portal pelaporan resmi Kemendiknas agar bisa segera ditindaklanjuti dan diperbaiki.
"Kalau ada sekolah rusak yang kau temukan, itu cukup lapor, ada portalnya di Dikdasmen pasti diperbaiki, ini kan masalahnya kan enggak fair ya," Lanjutnya.
Sudaryono menganggap kritikan tersebut tidak seimbang, ia memandangnya sebagai hal yang wajar dalam berdemokrasi.
Iya juga menekankan bahwa fokus utama BGN adalah menjamin kebersihan dan kehigienisan dapur SPPG, sehingga makanan yang disajikan untuk anak-anak terjamin gizi dan kualitasnya.
"Anak-anak habis makan, kemudian nanti impact dan juga outcomenya kan anak itu kemudian jadi bagus, yaitu terbebas dari stunting, pertumbuhan yang baik dan lain-lain," jelas Sudaryono.
Oleh karena itu, sudaryono menghimbau publik untuk tidak memperkeruh suasana terkait isu kerusakan sekolah dan menyarankan aduan langsung dikirim Kemendikdasmen.
Menurutnya temuan bangunan rusak cukup didokumentasikan lalu dilaporkan melalui jalur resmi, tanpa perlu menyandingkan dengan program dapur MBG yang memiliki ranah berbeda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni