RADARTUBAN – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Indonesia berpeluang mengambil peran dalam upaya membangun komunikasi di Semenanjung Korea.
Menurutnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae-Myung sempat meminta bantuan agar Indonesia dapat membuka jalur dialog dengan Korea Utara.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri pertemuan bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Istana Negara, Jakarta.
Ia mengaku permintaan tersebut disampaikan ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Seoul beberapa waktu lalu.
"Dalam kunjungan saya ke Korea Selatan, Presiden Lee meminta apakah saya bersedia berkunjung ke Korea Utara untuk membuka ruang dialog," ujar Prabowo.
Baca Juga: Korea Selatan Hadapi Krisis Demografi, Mengapa Generasi Mudanya Enggan Menikah dan Punya Anak?
Kepala Negara mengaku menyambut baik kepercayaan tersebut. Ia menyatakan siap apabila keberadaan Indonesia memang dibutuhkan untuk membantu mencairkan hubungan antara Seoul dan Pyongyang yang selama puluhan tahun diwarnai ketegangan.
Prabowo menilai kepercayaan itu tidak muncul begitu saja. Menurutnya, konsistensi Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif membuat banyak negara memandang Indonesia sebagai mitra yang netral dan dapat diterima oleh berbagai pihak.
Ia mengatakan Indonesia selama ini tidak memiliki kepentingan untuk ikut campur dalam urusan domestik negara lain. Sikap tersebut, lanjutnya, menjadi modal penting dalam membangun hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan dunia.
"Indonesia dianggap tidak punya kepentingan mencampuri urusan dalam negeri negara mana pun. Itu prinsip yang selalu kami pegang," katanya.
Prabowo menambahkan, kebijakan luar negeri tersebut memungkinkan Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang memiliki kepentingan berbeda di panggung internasional.
Indonesia, kata dia, mampu menjaga kerja sama dengan Amerika Serikat, sekaligus mempertahankan hubungan yang erat dengan China maupun Rusia.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyoroti situasi geopolitik global yang dinilainya semakin tidak menentu. Berbagai konflik bersenjata di sejumlah kawasan, menurutnya, menunjukkan pentingnya memperkuat diplomasi sebagai jalan penyelesaian dibandingkan konfrontasi.
Ia mengingatkan bahwa konflik internasional bukan hanya menjadi persoalan negara-negara yang terlibat, tetapi juga dapat berdampak terhadap stabilitas ekonomi, perdagangan, hingga keamanan kawasan, termasuk bagi Indonesia.
Karena itu, Prabowo menilai prinsip politik luar negeri bebas dan aktif tetap relevan untuk menjaga posisi Indonesia sebagai negara yang mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak di tengah dinamika geopolitik dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni