RADARTUBAN – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi sering kali dipandang sebagai kawasan yang kumuh, berbau menyengat, dan penuh dengan penderitaan.
Namun, bagi puluhan ribu warga yang mengandalkan mata perncahariannya di sana, tumpukan sampah jutaan ton tersebut justru dipandang sebagai gudang rezeki dan sumber penghidupan utama yang menjanjikan.
Sebagaimana dikutip dari wawancara di kanal YouTube Asumsi, kawasan Bantar Gebang menyimpan realitas sosial yang bertolak belakang dengan presepsi publik.
Bagi para pemulung, pedagang, hingga pengusaha limbah lokal, tumpukan sampah tersebut ibarat "bukit surga" yang mampu menggerakkan roda perekonomian keluarga secara berkelanjutan.
Salah seorang tokoh pemuda lokal sekaligus pengumpul sampah skala besar, Pak Dana atau yang akrab disapa Bos Donor, mengungkapkan bahwa mayoritas pengelola sampah di Bantar Gebang merupakan para pendatang.
Dia menyebutkan bahwa hasil dari mengumpulkan dan mengolah sampah justru kerap melebihi pendapatan pekerja pabrik pada umumnya.
"Banyak orang luar menganggap Bantar Gebang itu tempat yang hina dan bau. Padahal di mata saya, ini sangat luar biasa. Bahkan anak buah saya yang dulunya dipandang sebelah mata bisa membangun rumah yang sangat megah di kampung halamannya hingga membeli kendaraan roda empat dari hasil memilah sampah," ujar Bos Donor dalam penjelasannya.
Fenomena bertahan hidup di Bantar Gebang juga membentuk pola adaptasi yang unik di tengah keterbatasan lingkungan. Nandi atau yang dikenal dengan panggilan Pak Gondrong, seorang pemulung yang telah bertahan hampir 30 tahun di kawasan tersebut, membagikan pengalamannya mengonsumsi makanan bekas yang ditemukan di antara tumpukan sampah.
Makanan seperti olahan daging ayam hingga buah-buahan yang dibuang akan dicuci bersih, dibumbui ulang, dan digoreng kembali sebelum dikonsumsi bersama keluarga.
Proses adaptasi ekstrem ini diakui menjadi hal yang lumrah demi bertahan hidup tanpa merugikan orang lain. Bukan hanya orang dewasa, sistem imun warga di sekitar Bantar Gebang juga terbangun secara alami akibat tubuh mereka yang terbiasa berinteraksi langsung dengan lingkungan ekstrem setiap hari.
Sisi ekonomi kawasan ini juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro di area sekitar TPST. Rohimah, perempuan yang sehari-hari mengais rezeki dengan membuka warung makan di tengah kepungan sampah, mengungkapkan bahwa pendapatan harian dari berdagang di Bantar Gebang terbilang sangat tinggi.
Dalam sehari, omzet warungnya dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, melebihi pendapatannya saat pernah menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
Hasil berdagang tersebut dimanfaatkannya untuk membangun rumah pribadi dan membeli kendaraan secara mandiri. Menurutnya, anggapan bahwa warga Bantar Gebang hidup dalam kesedihan adalah pandangan yang kurang tepat, sebab mayoritas warga justru merasa bersyukur dan menikmati dinamika kehidupan di kawasan tersebut.
Baca Juga: ASN Tuban Wajib Pakai Tumbler, Pemkab Tekan Sampah Plastik dan Hemat Energi
Ketergantungan ekonomi yang kuat membuat sebagian besar warga merasa khawatir jika muncul wacana penutupan atau pemindahan TPST Bantar Gebang ke lokasi lain.
Bagi mereka, keberadaan sampah bukan sekadar buangan limbah perkotaan, melainkan tumpuan hidup tempat mereka menyekolahkan anak hingga jenjang perguruan tinggi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa TPST Bantar Gebang menjadi bukti nyata atas kemampuan luar biasa manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan paling ekstrem sekalipun.
Di balik stigma negatif dan aroma menyengat, kawasan ini menyimpan ekosistem ekonomi independen yang memberi penghidupan, harapan, serta martabat bagi ribuan jiwa yang menggantungkan nasibnya dari sisa-sisa peradaban kota. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Asumsi