Stand Up di Gedung KPK, Mukmin Sindir Dugaan Korupsi MBG hingga Nasib Guru Honorer

Nadia Aulia • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:33 WIB
Penampilan Mukmin di panggung Suara Antikorupsi KPK. (Tangkapan layar youtube)
Penampilan Mukmin di panggung Suara Antikorupsi KPK. (Tangkapan layar youtube)

RADARTUBAN – Penampilan komika sekaligus juara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 12, Mukmin, sukses mencuri perhatian publik ketika tampil dalam program Suara Antikorupsi KPK.

Materi komedi yang dibawanya sarat akan kritik sosial. Dengan gaya satire khasnya, ia menyinggung berbagai persoalan, mulai dari dugaan korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), lambatnya penanganan kasus korupsi, hingga kesejahteraan guru honorer yang dinilainya masih jauh dari kata layak.

Mukmin membuka penampilannya dengan melontarkan pujian bernada satire terhadap megahnya Gedung KPK. Ia berkelakar mempertanyakan apakah proses pembangunan gedung tersebut telah diaudit secara menyeluruh agar tidak terjadi penyimpangan anggaran.

Candaan itu pun langsung disambut gelak tawa dan tepuk tangan para hadirin.

Sebagai seorang guru honorer, Mukmin mengaku memiliki keresahan terhadap isu dugaan korupsi dalam program MBG. Ia bahkan memperkenalkan dirinya dengan gaya humor yang mengundang tawa sekaligus sindiran.

Baca Juga: Kepala BGN Bongkar Tiga Biang Kerok Program MBG, Korupsi dan Birokrasi Jadi Sorotan Utama

"Jujur saya kesal banget sama masalah MBG ini. Saya adalah seorang guru honorer. Mungkin ada yang belum tahu. Saya adalah guru honorer terkaya di Indonesia. Ya, saya kemarin baru juara SUCI 12. Saya dapat mobil, uang Rp 50 juta, dan semua saya dapatkan bukan dari korupsi," ujar Mukmin yang langsung disambut tepuk tangan penonton.

Menurut Mukmin, program MBG pada dasarnya merupakan kebijakan yang baik karena bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Namun, ia menyayangkan apabila program tersebut justru tercoreng oleh dugaan penyalahgunaan anggaran.

"MBG menurut saya adalah program yang sangat bagus. Bagus banget kalau diop..., karena korupsinya tuh enggak macam-macam. Astagfirullah," ucapnya dengan nada satire yang mengundang tawa sekaligus refleksi.

Ia juga menyinggung adanya pengadaan barang-barang yang dinilai janggal dalam program tersebut, seperti semir sepatu, kaus kaki, hingga motor trail.

Menurutnya, anggaran negara seharusnya digunakan secara tepat sasaran demi kepentingan masyarakat.

Tak hanya berbicara soal korupsi, Mukmin memanfaatkan panggung di hadapan jajaran KPK untuk menyuarakan nasib guru honorer.

Ia menyampaikan masih banyak tenaga pendidik yang harus bekerja dalam kondisi sulit dengan penghasilan yang sangat minim, bahkan harus menempuh medan berat demi mengajar di pelosok negeri.

Seperti menyoroti adanya bantuan yang diberikan untuk para guru, tetapi tidak sepadan dan hanya untuk peredam saja. Ia menilai bantuan semacam ini seperti ejekan, dan bukan niat yang murni untuk menyelesaikan permasalahan.

Baca Juga: Berkas Dilimpahkan ke Pengadilan, Mantan Menag Yaqut Segera Disidang Kasus Korupsi Kuota Haji

Kritiknya semakin mengena ketika ia menyinggung lagu-lagu penghormatan kepada guru yang kerap diputar pada momen tertentu. Bagi Mukmin, guru tidak hanya membutuhkan pujian, tetapi juga kepastian masa depan.

"Guru honorer itu berharap namanya ada dalam daftar CPNS. Buat apa nama kami ada dalam sanubarimu?" ujarnya, disambut riuh tepuk tangan penonton.

Penampilan Mukmin pun menuai banyak respons positif dari warganet. Banyak yang menilai materi yang dibawakannya bukan sekadar komedi, melainkan gambaran keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan yang belum terselesaikan.

Salah satu komentar yang ditinggalkan penonton dalam tayangan ini tertulis:

"Jujur saya justru tidak merasa ini sebuah komedi. Tapi sebuah keresahan yang jujur mengalir dari sebuah derita panjang rakyat jelata. Mestinya kita menangis mendengar ini, bukan tertawa."

Dengan adanya penampilan semacam ini, menunjukkan bahwa komedi dapat menjadi medium kritik sosial yang kuat.

Di balik tawa yang mengiringi setiap leluconnya, terselip pesan tentang pentingnya menjaga integritas, memberantas korupsi, serta memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan guru honorer yang selama ini menjadi salah satu ujung tombak pendidikan di Indonesia. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Mukmin KPK Mbg guru honorer Korupsi