Viral di Threads, Pedagang Pisang Nyaris Rugi Rp 2,1 Juta Gara-Gara Pesanan MBG Batal

Hardiyati Budi Anggraeni • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 09:13 WIB
Pesanan 14 peti pisang dibatalkan MBG. (Istimewa)
Pesanan 14 peti pisang dibatalkan MBG. (Istimewa)

RADARTUBAN – Pengalaman kurang mengenakkan dialami Imam Mustofa (35), pedagang pisang asal Kota Metro, Lampung.

Dia nyaris mengalami kerugian sekitar Rp 2,1 juta setelah pesanan 14 peti pisang cavendish yang disebut untuk kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dibatalkan secara mendadak.

Kisah tersebut kemudian viral setelah Imam membagikannya melalui Threads.

Pesanan dalam jumlah besar yang awalnya diyakini bakal mendatangkan keuntungan justru membuat Imam harus memutar otak agar stok pisang yang sudah disiapkan tidak terbuang percuma.

Beruntung, unggahan tersebut mendapat respons dari warganet.

Sejumlah pengguna media sosial menawarkan diri membeli pisang tersebut. Ada pula yang menyarankan agar sebagian stok disumbangkan ke panti asuhan.

Baca Juga: Dapur MBG di Tuban Berulah Lagi, Pasca Izin Istri Sakit Malah Kena PHK dari SPPG Rengel 2

Imam juga berinisiatif membawa sisa pisang dan menawarkannya secara langsung ke sejumlah perkantoran di Bandar Lampung. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Seluruh stok pisang berhasil terjual sebelum kualitasnya menurun.

"Alhamdulillah setelah saya posting di Threads banyak yang membantu. Ada yang beli, ada juga yang minta disumbangkan ke panti asuhan. Sisanya saya antar sendiri ke kantor-kantor sampai akhirnya habis," kata Imam, dikutip dari Kompas.com, Jumat (7/8).

Dengan cara tersebut, Imam berhasil menyelamatkan modal sekitar Rp 2,1 juta yang sebelumnya terancam hilang.

Pesanan 14 Peti Pisang Mendadak Dibatalkan

Kejadian tersebut bermula pada 29 Juli 2026. Saat itu, Imam dihubungi seseorang bernama Effendi yang menanyakan ketersediaan pisang cavendish.

Sehari kemudian, pemesan memastikan akan membeli 14 peti pisang dengan nilai sekitar Rp 2,1 juta. Kepada Imam, pisang tersebut disebut akan digunakan untuk kebutuhan dapur MBG.

"Awalnya dia tanya ada stok pisang cavendish atau tidak. Besoknya dia memastikan pesan 14 peti dengan nilai sekitar Rp 2,1 juta," ujar Imam.

Setelah pesanan dipastikan, Imam langsung mengambil langkah untuk memenuhi permintaan tersebut. Ia memesan stok dari pemasok.

Baca Juga: Solusi Cerdas Ditengah Mahalnya Plastik! Pakar Unair Sebut Daun Pisang dan Kertas Daur Ulang Lebih Menguntungkan

Namun, pisang cavendish tidak bisa dipersiapkan secara instan. Buah tersebut membutuhkan waktu untuk menjalani proses pematangan sebelum siap dipasarkan.

"Kalau pisang cavendish itu tidak bisa mendadak. Harus dipesan beberapa hari sebelumnya karena ada proses pematangan. Begitu barang datang, saya juga tidak bisa membatalkannya lagi," jelasnya.

Masalah muncul ketika seluruh pesanan sudah siap dikirim.

Pada Minggu sore menjelang jadwal pengiriman, Imam mendapat kabar bahwa pesanan tersebut dibatalkan. Alasannya, dapur MBG yang disebut sebagai tujuan pengiriman sedang terkena suspend.

Dijanjikan Dialihkan ke Dapur MBG Lain

Pembatalan tersebut belum langsung membuat Imam mencari pembeli baru. Sebab, pemesan sempat mengatakan bakal mencarikan dapur MBG lain yang dapat menerima 14 peti pisang tersebut.

Imam pun memilih menunggu. Namun, setelah sekitar dua hari, kepastian yang dijanjikan tidak kunjung datang.

"Dia bilang akan mencarikan lemparan ke dapur lain. Tapi sampai batas waktu yang dijanjikan tidak ada kepastian. Sementara kalau ditunda sehari saja, kualitas pisang sudah mulai menurun dan saya tidak berani menjamin kondisinya," ungkap Imam.

Kondisi itu membuat Imam berada dalam posisi sulit. Pisang yang terus mengalami proses pematangan tidak bisa disimpan terlalu lama karena berisiko mengalami penurunan kualitas.

Ia akhirnya memutuskan mencari pembeli lain agar seluruh stok dapat segera terserap.

Datangi Lokasi Dapur MBG

Sebelum menawarkan pisang melalui media sosial, Imam sempat mendatangi lokasi dapur MBG yang disebut sebagai tujuan awal pesanan.

Lokasi tersebut berada di kawasan belakang Mall Kartini, Bandar Lampung.

Menurut Imam, saat mendatangi lokasi tersebut dirinya masih melihat adanya aktivitas. Ia juga mengaku melihat sejumlah ompreng berada di tempat tersebut.

Kondisi itu kemudian membuat Imam mempertanyakan alasan pembatalan yang disampaikan kepadanya.

"Saya datang langsung ke lokasi. Masih banyak aktivitas dan ompreng di sana. Dari situ saya menduga yang berhubungan dengan saya bukan pihak dapurnya, melainkan hanya perantara atau calo," tuturnya.

Meski memiliki dugaan tersebut, Imam tidak menyimpulkan bahwa pengelola dapur MBG terlibat dalam persoalan itu.

Ia menegaskan tidak mempunyai bukti bahwa orang yang berkomunikasi dengannya benar-benar merupakan perwakilan resmi dari dapur MBG yang dimaksud.

Akui Lalai Tak Minta Uang Muka

Dari kejadian tersebut, Imam mengaku mendapatkan pelajaran penting dalam menjalankan bisnisnya. Salah satu hal yang ia sesali adalah tidak meminta uang muka atau down payment (DP) untuk pesanan dalam jumlah besar.

Ia juga mengaku tidak melakukan pengecekan lebih mendalam terhadap identitas pemesan.

"Saya akui ini juga kelalaian saya karena tidak meminta uang muka (down payment) dan tidak mengecek identitas pemesan. Selama ini saya sudah sering memasok ke dapur-dapur dan aman. Baru kali ini mengalami kejadian seperti ini," kata Imam.

Pengalaman sebelumnya memasok kebutuhan sejumlah dapur membuat Imam tidak terlalu mencurigai pesanan tersebut.

Namun, pembatalan mendadak terhadap 14 peti pisang membuatnya menyadari pentingnya melakukan verifikasi terhadap calon pembeli, khususnya ketika nilai transaksi cukup besar.

Imam juga mengaku mendapat informasi dari sejumlah pengguna media sosial bahwa orang dengan nama yang sama diduga pernah melakukan pola serupa kepada pedagang lain.

Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen sehingga belum bisa dipastikan kebenarannya.

Pada akhirnya, persoalan tersebut tidak membuat Imam kehilangan modal. Setelah kisahnya viral di Threads, bantuan warganet dan upayanya menjual pisang secara langsung ke sejumlah kantor membuat seluruh stok habis.

Kejadian itu sekaligus menjadi pengingat bagi pelaku usaha agar lebih berhati-hati menerima pesanan dalam jumlah besar, terutama dengan memastikan identitas pembeli dan mempertimbangkan penerapan sistem pembayaran uang muka. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
pisang Threads Mbg