RADARTUBAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat pengetatan. Badan Gizi Nasional (BGN) kini meminta guru tidak sekadar mengawasi siswa saat makanan dibagikan, tetapi ikut makan bersama di dalam kelas.
Instruksi tersebut disampaikan Kepala BGN Sudaryono melalui akun media sosialnya.
Ada alasan serius di balik aturan itu: ruang kelas diharapkan menjadi tempat siswa belajar bukan hanya soal gizi, tetapi juga adab makan, kedisiplinan mengantre hingga menjaga kebersihan.
Lebih penting lagi, guru ditempatkan sebagai lapisan terakhir pengawasan makanan sebelum disantap siswa.
Baca Juga: Mantan Koki MBG Rengel 2 Buka-bukaan Soal PHK Sepihak hingga Hak Konsumsi Relawan
Guru Jadi Penguji Terakhir Sebelum MBG Disantap
Sudaryono menegaskan guru memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang diterima siswa benar-benar layak.
“Jika makanan dirasa tidak layak, wajib hukumnya tidak dibagikan ke siswa,” tegasnya.
Aturan baru juga akan diterapkan mulai pekan depan. Setiap ompreng MBG diwajibkan memiliki label batas waktu konsumsi.
Jika batas waktu tersebut terlewati, makanan dinyatakan tidak boleh dikonsumsi.
Langkah ini menjadi perhatian serius karena makanan yang terlalu lama berada di luar kondisi penyimpanan yang tepat berpotensi mengalami penurunan kualitas dan meningkatkan risiko keamanan pangan.
Niat Baik Siswa Bisa Berujung Bahaya
Ada fenomena lain yang turut disoroti Sudaryono. Sebagian siswa disebut rela tidak memakan lauk seperti telur atau ayam karena ingin membungkusnya untuk dibawa pulang.
Niatnya memang terlihat sederhana: ingin berbagi makanan dengan keluarga.
Namun, BGN justru meminta kebiasaan tersebut dihentikan.
Sesuai petunjuk teknis keamanan pangan, makanan MBG dilarang dibawa pulang karena kualitas gizinya dapat menurun dan berisiko menjadi tidak aman untuk dikonsumsi.
Sudaryono meminta guru ikut memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai bahaya mengonsumsi makanan yang telah melewati batas waktu.
Pesannya tegas: kebaikan hati tidak boleh mengalahkan prosedur keselamatan pangan.
Dengan aturan ini, guru bukan lagi sekadar pengawas di kelas. Mereka menjadi bagian penting dari benteng keamanan MBG sebelum makanan masuk ke tubuh anak-anak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni