Felix Siauw Soroti Ucapan Pergi Saja kepada Pengkritik: Kok Bisa Nyuruh Orang Keluar?

Nadia Aulia • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:37 WIB
Felix Siauw menyampaikan pandangannya terkait retorika “pergi saja. (Tangkapan layar youtube)
Felix Siauw menyampaikan pandangannya terkait retorika “pergi saja. (Tangkapan layar youtube)

RADARTUBAN — Bagaimana jika kritik terhadap pemerintah justru dibalas dengan permintaan untuk meninggalkan negeri sendiri? Kalimat “kalau tidak suka, pergi saja” mungkin terdengar sederhana.

Namun, bagi pendakwah dan pengamat sosial Felix Siauw, ucapan tersebut menyimpan persoalan lebih besar tentang hubungan antara pemimpin, rakyat, dan rasa memiliki terhadap Indonesia.

Menyoroti retorika pejabat atau pemimpin yang meminta pihak yang tidak sependapat untuk keluar dari Indonesia atau bahkan pergi ke negara lain.

Menurutnya, tidak semestinya ada pihak yang merasa memiliki kewenangan untuk menentukan siapa yang pantas tinggal di Indonesia hanya karena perbedaan pandangan.

“Pertanyaannya adalah, Indonesia itu punya siapa sih? Kok bisa ada orang merasa bahwasanya Indonesia itu punya dia sehingga dia bisa seenaknya nyuruh orang keluar?” ujar Felix kesal.

Baca Juga: Skandal Lama Presiden FIFA Gianni Infantino Meledak, Mantan Kolega Disebut Dapat Bayaran UEFA Rp 3 Miliar

Selanjutnya, Ustaz Felix mengibaratkan sikap tersebut seperti orang tua yang meminta anaknya pergi dari rumah ketika terjadi permasalahan.

Kalimat semacam itu biasanya muncul ketika seseorang sudah tidak mampu memberikan alasan yang dapat diterima atau mulai kehilangan kepedulian.

“Itu sering terjadi ketika pertama, dia sudah enggak punya argumen untuk ngasih tahu anaknya. Kedua, dia sudah enggak peduli,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti pola komunikasi yang kerap muncul dalam pidato presiden. Setelah membangun narasi tentang keindonesiaan, biasanya akan disusul dengan respons terhadap pihak yang dianggap menyerang atau mengkritik.

Persoalannya, sosok yang dimaksud terkadang tidak disebutkan secara jelas sehingga publik justru dibuat bertanya-tanya mengenai sasaran pernyataan tersebut.

Kritik seharusnya dihadapi melalui dialog, bukan dengan pernyataan sindiran yang justru berpotensi merenggangkan jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Hal yang membuat tambah geram muncul ketika masyarakat diminta meninggalkan Indonesia. Felix menjelaskan bahwa kemampuan untuk berpindah ke luar negeri bukan sesuatu yang dimiliki semua orang.

Kelompok kaya pasti memiliki modal dan akses untuk memindahkan keluarga maupun kehidupannya ketika terjadi situasi sulit. Namun, kondisinya berbeda dengan rakyat kecil yang kehidupannya bergantung pada pekerjaan dan terpaksa tidak punya pilihan.

Dengan ini, ia menilai pemimpin seharusnya membangun komunikasi berdasarkan kepedulian terhadap masyarakat. Perbedaan pendapat tidak semestinya membuat warga merasa menjadi orang asing di negaranya sendiri.

Baca Juga: KPK Dalami Kasus Haji Bermasalah, Ustaz Khalid Basalamah Dimintai Keterangan soal Penggunaan Jalur Khusus

Ia kembali menggunakan analogi hubungan orang tua dan anak. Menurutnya, ucapan yang membuat anak merasa tidak diterima di rumah dapat meninggalkan dampak hingga masa depan.

“Anak-anak yang dapat omongan kayak gitu, ‘kalau enggak suka pergi aja dari rumah ini’, yakinlah suatu hari nanti ketika dia jadi yang punya rumah... jangan heran kalau dia akan bilang begitu sama bapaknya,” pungkasnya.

Di tengah masyarakat yang berbeda pilihan dan pandangan, komunikasi yang penuh empati dinilai penting agar kritik tidak berubah menjadi jarak.(*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube Felix Siaw
ppemerintah pergi saja felix siaw Indonesia kritik