Ketertarikan Sesama Jenis Bukan Penyakit, Begini Penjelasan Sains dan Agama

Puput Dwi Indrawati • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:36 WIB
Ilustrasi bendera LGBTQ (Tangkap layar dari video YouTube Kanal Daexplorers-3ex)
Ilustrasi bendera LGBTQ (Tangkap layar dari video YouTube Kanal Daexplorers-3ex)

RADARTUBAN- Isu ketertarikan sesama jenis yang berada di bawah payung besar LGBTQ memang selalu memicu diskusi panjang.

Kalau kita melihat dari kacamata psikologi, sebenarnya ada tiga orientasi seksual yang umum dikenal masyarakat.

Namun, bagaimana fenomena ini dipahami ternyata sangat tergantung dari sudut pandang yang digunakan, baik dari ilmu pengetahuan maupun ajaran agama.

Dilansir dari kanal YouTube 1 Langkah Lebih Maju dalam videonya yang berjudul ternyata bukan penyakit ini fakta menarik suka sesama jenis yang jarang diketahui, sejarah mencatat perubahan besar pada 12 Mei 1990 ketika WHO resmi menghapus ketertarikan sesama jenis dari daftar penyakit jiwa.

Pandangan dunia medis saat ini jelas sangat berbeda dibanding era dulu.

Baca Juga: Yusril Bantah Perpres 111 Tahun 2025 Atur LGBTQ, Sebut Fokusnya Kebijakan Pertahanan Negara

Hal ini sejalan dengan penegasan Direktur Institut Seksologi dan Kedokteran Seksual Berlin, Prof. Dr. Med. Klaus M. Beier. 

Ia menyampaikan bahwa kelompok homoseksual dan transeksual sebenarnya tidak sakit dan tidak pernah sakit. 

"Ini bukanlah sebuah pilihan melainkan takdir," dikutip dari penjelasan di video tersebut.

Sampai hari ini, para ahli sendiri belum bisa menunjuk satu penyebab pasti di balik fenomena tersebut.

Meski begitu, ada beberapa faktor yang diduga kuat ikut berpengaruh, mulai dari genetik, kondisi hormon saat di dalam kandungan, struktur otak, hingga pengalaman trauma masa kecil dan pengaruh lingkungan sosial.

Mengenai hal ini, tiga agama besar dunia juga memiliki sudut pandang yang beragam. Islam melarang keras praktik ini, sementara Kristen lebih menekankan pada ikatan heteroseksual.

Berbeda lagi dengan Buddha yang melihatnya melalui pendekatan tindakan, karma, serta hidup damai, sehingga cenderung lebih memaklumi.

Isu ini pada akhirnya kembali pada bagaimana kita saling berinteraksi sebagai sesama manusia.

Bagi siapa pun yang mungkin sedang bergulat dengan perasaan ini, membuka diri kepada profesional atau sosok yang mau mendengar tanpa menghakimi bisa menjadi langkah awal yang baik, sambil terus fokus menempa diri. 

Di saat yang sama, ruang untuk saling mendengarkan dengan empati juga menjadi hal mendasar yang dibutuhkan agar kehidupan bermasyarakat terasa jauh lebih hangat bagi siapa saja. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Sumber : Youtube 1 Langkah
LGBTQ ketertarikan sesama jenis psikologi penyakit agama