RADARTUBAN — Mudik merupakan salah satu tradisi terbesar di Indonesia. Menjelang Hari Raya Idulfitri, jutaan masyarakat berbondong-bondong pulang ke kampung halaman.
Namun, momen yang seharusnya penuh kehangatan itu pernah berubah menjadi tragedi kelam pada pertengahan tahun 2016 silam.
Dilansir dari kanal YouTube Redaksi Konspirasi, kemacetan horor selama lebih dari 30 jam di Pintu Tol Brebes Timur (Brexit) merenggut belasan nyawa dan menjebak ratusan ribu pemudik dalam jalur maut.
Kilas balik peristiwa bermula pada Juni 2016, ketika Presiden Joko Widodo meresmikan ruas tol Trans-Jawa Pejagan–Brebes Timur.
Masyarakat menyambutnya dengan antusias tinggi karena tol ini dijanjikan mampu memangkas waktu tempuh Jakarta–Brebes secara signifikan, dari 6 jam menjadi hanya 4 jam.
Baca Juga: Resmi Mudik, Slaven Bilic Kembali Ditunjuk Jadi Manajer Timnas Kroasia!
Pemerintah memang telah menduga bahwa ruas tol anyar ini akan mengalami lonjakan kendaraan saat mudik Lebaran.
Dugaan tersebut terbukti pada 1–5 Juli 2016, ketika arus kendaraan memuncak. Meski padat, arus lalu lintas di jalur utama sebenarnya sempat berjalan lancar.
Petaka baru bermula saat kendaraan mendekati pintu keluar Tol Brebes Timur (Brexit). Antrean panjang tak terhindarkan akibat terbatasnya lajur dan gerbang pembayaran manual yang lambat.
Situation kian parah ketika kendaraan yang lolos dari gerbang tol langsung disambut jalur Pantura yang sempit dan padat aktivitas warga lokal.
Kondisi ini menciptakan fenomena bottleneck (efek leher botol) yang ekstrem. Kendaraan di depan terhenti total, sementara ribuan mobil dari arah Jakarta terus berdatangan hingga mengekor hingga puluhan kilometer.
Awalnya, para pemudik mengira penumpukan hanya disebabkan kecelakaan biasa. Namun, rasa penasaran perlahan berubah menjadi kepanikan setelah kendaraan tidak bergerak sedikit pun selama berjam-jam.
Menurut pengakuan salah satu pemudik, mobilnya hanya mampu melaju kurang dari 10 meter dalam waktu 5 jam.
Suhu udara yang menyengat hingga 35 derajat Celsius memaksa para pemudik terus menyalakan pendingin udara (AC) di dalam mobil.
Tanpa disadari, ribuan mesin kendaraan yang terus menyala di tengah kemacetan menciptakan kepungan asap knalpot beracun yang kaya akan karbon monoksida (CO).
Para pemudik mulai merasakan sesak napas, mata perih, hingga mual dan muntah.
Ruas tol berubah menjadi "kamar gas beracun" raksasa. Krisis kian memuncak saat persediaan air minum dan makanan habis, sementara rest area terbatas dan sulit diakses.
Di tengah suhu panas dan keputusasaan, beberapa kendaraan kehabisan bahan bakar.
Kondisi ini dimanfaatkan penjual bensin eceran yang mematok harga hingga dua kali lipat. Bau kotoran, bahan bakar, dan asap knalpot bercampur aduk di bawah terik matahari.
Tragedi pilu tak terelakkan. Beberapa balita dilaporkan kehilangan kesadaran hingga mengembuskan napas terakhir di pangkuan orang tuanya.
Kisah duka lain datang dari seorang pemudik asal Depok bernama Ari, yang harus kehilangan ibunya akibat kelelahan ekstrem setelah terjebak selama 12 jam di jalur tersebut.
Secara keseluruhan, tragedi kemacetan di Pintu Tol Brexit mencatat sedikitnya 17 korban jiwa. Peristiwa ini dikenang sebagai salah satu musibah mudik paling mengerikan di Indonesia, hingga memicu sebutan 'mudik neraka'.
Tragedi Tol Brexit menjadi catat kelam dalam sejarah transportasi nasional.
Peristiwa ini menjadi pelajaran mahal mengenai pentingnya perhitungan teknis dan kesiapan infrastruktur pendukung secara matang, agar ambisi pembangunan tidak lagi mengorbankan keselamatan warga negara. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Redaksi Konspirasi