RADARTUBAN– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sering kali dipandang oleh masyarakat luas sekadar sebagai tempat menjalani hukuman atas kesalahan masa lalu.
Namun, di balik dinding kokoh dan jeruji besi tersebut, terdapat kisah-kisah perjuangan, penyesalan, hingga proses pendewasaan diri dari para warga binaan yang tengah berjuang menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam tayangan dokumenter program Ternyata Begini Special Edition di kanal YouTube Cretivox yang berjudul "Harapan di Balik Jeruji", terungkap sisi lain kehidupan para warga binaan perempuan di dalam lapas.
Baca Juga: Tuduh Tetangga sebagai Pelakor, Pasutri di Tuban Dituntut 10 Bulan Penjara
Jauh dari kesan menakutkan yang sering dibayangkan masyarakat umum, kehidupan di dalam lapas justru menjadi tempat pembelajaran berharga, pendalaman spiritual, serta Wadah untuk menemukan bakat terpendam yang sebelumnya tak pernah tersentuh.
Seorang warga binaan mengungkapkan bahwa suasana di dalam lembaga pemasyarakatan tidak seburuk anggapan masyarakat pada umumnya.
"Penjara itu tidak seburuk itu, di dalam lapas tuh enggak semengerikan itu loh. Kita di sini bisa jadi lebih baik, bisa lebih damai aja gitu sama diri sendiri daripada di luar," tuturnya.
Para warga binaan membagikan kisah bagaimana rutinitas harian diisi dengan berbagai program pembinaan bermanfaat, mulai dari pelatihan keterampilan seni seperti dekorasi dan tari tradisional, kelas menulis, pembelajaran bahasa asing, hingga memasak.
Bukan hanya keterampilan teknis, aspek kedekatan dengan Tuhan juga menjadi pilar utama. Sebagian besar dari mereka mengaku justru baru bisa menjalankan ibadah secara konsisten, belajar mengaji, hingga khatam Al-Qur'an setelah berada di dalam lapas.
Tak hanya itu, hidup berdampingan dalam keterbatasan ruang mengajarkan mereka untuk menekan ego pribadi dan belajar saling peduli.
Mereka saling berbagi cerita, saling menguatkan di kala rindu kepada keluarga melanda, hingga melakukan kegiatan bersama seperti olahraga zumba demi menjaga kesehatan mental.
Menghadapi masa depan, salah satu warga binaan menegaskan pentingnya fokus pada pemulihan diri daripada meratapi masa lalu.
"Kita belajar buat enggak ngelihat ke belakang tapi fokus ke depan, karena kalau kita ngelihat ke belakang terus kita bakalan kalau enggak ketabrak ya kita jatuh. Lanjutin aja yang udah di depan mata," ungkapnya.
Ruang gerak yang terbatas tidak lantas memadamkan harapan mereka untuk menata masa depan. Kerinduan yang mendalam terhadap orang tua dan anak-anak di rumah menjadi sumber motivasi terbesar untuk segera menyelesaikan masa tahanan dan membuktikan bahwa mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua di masyarakat. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Cretivox