RADARTUBAN — Di tengah keindahan alam Gunung Ijen di Jawa Timur, Indonesia, ratusan penambang harus berhadapan dengan bahaya ekstrem setiap hari.
Mereka mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan jiwa demi menambang belerang yang oleh warga lokal kerap dijuluki sebagai "emas iblis".
Kondisi kerja yang sangat berat dan penuh risiko beracun membuat banyak penambang di kawasan ini memiliki harapan hidup yang rendah, bahkan jarang yang bertahan hidup melampaui usia 50 tahun.
Dikutip dari kanal YouTube Business Insider, salah satu penambang senior bernama Mistar telah menjalani profesi berat ini selama lebih dari 30 tahun.
Setiap hari, para penambang seperti Mistar memikul beban belerang hingga 200 pon (sekitar 90 kg) di bahu mereka, menyusuri tebing-tebing curam dan terjal di kawah gunung berapi aktif tersebut.
Secara global, sekitar 98% pasokan belerang dunia sebenarnya diperoleh sebagai produk sampingan dari penyulingan minyak dan gas bumi.
Hal ini menjadikan penambangan vulkanik alami secara manual sejatinya sudah hampir punah dan usang di era modern. Belerang sendiri merupakan bahan baku vital yang digunakan dalam berbagai industri, mulai dari pembuatan korek api, bahan kimia pemutih gula, karet, hingga baterai dan pupuk.
Meski demikian, aktivitas penambangan manual di Kawah Ijen tetap berjalan karena alasan ekonomi lokal. Di wilayah terpencil ini, pendapatan dari menambang belerang tergolong lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain seperti bertani.
Proses penambangan belerang secara tradisional di Kawah Ijen menyimpan ancaman bahaya yang sangat mematikan bagi para pekerjanya.
Para penambang harus turun ke dasar kawah yang berkedalaman hingga 1.000 kaki dan beraktivitas di bawah paparan suhu udara ekstrem yang kerap melebihi 37,7 derajat Celsius.
Situasi ini menjadi semakin berisiko karena lokasi penambangan berada tepat di tepi danau kawah yang dikenal sebagai salah satu danau paling asam di dunia.
Ancaman utama bagi keselamatan jiwa di area penambangan berasal dari dua jenis paparan gas belerang.
Jenis asap pertama menyembur langsung dari saluran pipa kawah, sementara jenis asap kedua yang jauh lebih berbahaya bersumber dari akumulasi gas vulkanik mematikan di bawah danau asam.
Risiko fatalitas ini diperparah oleh minimnya Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.
Selain ancaman racun udara, aktivitas fisik yang brutal memberikan dampak buruk yang permanen terhadap tubuh penambang.
Menerima beban belerang padat yang kerap kali melampaui berat badan mereka sendiri secara berulang-ulang memicu kerusakan parah pada tulang belakang dan memicu penderitaan fisik jangka panjang.
Kisah para penambang belerang di Kawah Ijen mencerminkan realitas pahit perjuangan hidup di tengah keterbatasan pilihan ekonomi.
Gunung Ijen berdiri megah tidak hanya sebagai keajaiban alam dan destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai saksi bisu pengorbanan para penambang yang mempertaruhkan nyawa dan masa depan mereka demi menafkahi keluarga. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Business Insider