RADARTUBAN - Presiden Prabowo Subianto membeberkan sejumlah hasil kerja pemerintahannya selama 21 bulan memimpin Indonesia.
Salah satu yang disorot adalah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar lebih tinggi sekaligus membuka semakin banyak lapangan kerja.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Prabowo menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan di tengah tekanan global yang tidak ringan.
Konflik geopolitik di Timur Tengah hingga gangguan rantai pasok dunia disebut menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah.
Klaim tersebut menjadi penting karena gejolak global berpotensi memukul negara yang masih bergantung besar pada pasokan dari luar negeri.
Indonesia Diminta Tak Terlalu Bergantung Asing
Di tengah situasi tersebut, Prabowo menekankan pentingnya kemandirian ekonomi nasional.
Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dinilai menjadi kerentanan yang harus segera dikurangi.
"Dalam keadaan seperti ini, Indonesia harus semakin mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita harus bisa mandiri. Kita tidak boleh tergantung pasokan-pasokan dari luar," katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus mempertegas arah kebijakan pemerintah yang ingin memperkuat fondasi ekonomi domestik.
Namun, tantangan menuju kemandirian itu tidak sederhana. Indonesia tetap berhadapan dengan kebutuhan bahan baku, teknologi, energi, hingga berbagai komponen industri yang sebagian masih bergantung pada pasar internasional.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Masyarakat
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi tidak semestinya berhenti pada angka pertumbuhan.
Pemerintah juga menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Ormas Liar dan Premanisme Mengancam Investasi Indonesia, Ekonomi Bayangan Capai Rp 2.200 Triliun
Prabowo sendiri menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu hasil kerja kabinet selama 21 bulan pemerintahannya.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah kini ditantang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan sekadar statistik dalam laporan.
Jika kemandirian ekonomi benar-benar menjadi target, maka produksi dalam negeri, industri nasional, dan kesempatan kerja harus menjadi ujian paling nyata.
Sebab, ketika rantai pasok dunia kembali terguncang, Indonesia tidak cukup hanya bertahan. Negara harus mampu berdiri dengan kekuatan ekonominya sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni