RADARTUBAN — Micin atau monosodium glutamate (MSG) merupakan penyedap rasa yang hampir selalu ada di setiap dapur rumah tangga.
Meski sangat populer, tak sedikit masyarakat yang masih percaya pada mitos lama bahwa mengonsumsi micin bisa menurunkan kecerdasan otak atau membawa dampak negatif lainnya.
Padahal, jika menilik proses produksinya, micin dibuat dari bahan-bahan hasil pertanian alami melalui teknologi industri yang higienis.
Dilansir dari kanal YouTube MANUFACTO, proses pembuatan micin melibatkan rangkaian produksi industri yang kompleks, terukur, dan terkontrol secara ketat dari bahan baku alami hingga menjadi produk siap konsumsi.
Dua bahan utama pembuatan micin adalah singkong dan tebu. Setelah dipanen, keduanya didistribusikan ke fasilitas pengolahan masing-masing.
Baca Juga: Micin Bikin Bodoh? Dr. Tirta Bongkar Tuntas Fakta Ilmiah di Balik MSG dalam Podcast Raditya Dika
Di pabrik tapioka, singkong terlebih dahulu dibersihkan menggunakan mesin cuci berkapasitas besar untuk menghilangkan tanah, kotoran, dan sisa kulit.
Singkong kemudian dikupas secara mekanis dengan presisi tinggi lalu digiling hingga halus menghasilkan pulp (bubur kental pati dan serat).
Melalui proses penyaringan dan sentrifugasi, cairan kaya pati dipisahkan dari seratnya.
Cairan tersebut kemudian dikeringkan dalam mesin bersuhu tinggi hingga menghasilkan tepung tapioka halus berwarna putih yang siap digunakan sebagai bahan baku micin.
Di sisi lain, batang tebu juga melewati tahap pencucian dan penggilingan menggunakan roller baja bertekanan tinggi untuk diekstraksi cairannya.
Setelah kristal gula dipisahkan, dihasilkanlah produk sampingan berupa cairan kental berwarna gelap yang disebut molase atau tetes tebu.
Bagi industri gula biasa, molase hanyalah limbah, namun dalam industri micin, molase memegang peran kunci sebagai sumber karbon.
Tepung tapioka dan molase tersebut kemudian dicampur hingga homogen lalu dimasukkan ke dalam tangki fermentasi raksasa setinggi 10 meter.
Pada tahap ini, ditambahkan mikroorganisme khusus yang bertugas mengonsumsi gula kompleks dan mengubahnya menjadi asam glutamat dalam proses fermentasi selama dua hari penuh.
Setelah fermentasi usai, larutan asam glutamat diuapkan melalui proses evaporasi untuk mengurangi kadar air.
Baca Juga: Waspada Hidden Killers! Pakar Ungkap Bahaya Mikroplastik, BPA, hingga MSG bagi Kesehatan
Larutan pekat tersebut lalu diproses dalam unit kristalisasi hingga membentuk kristal padat, dipisahkan dari sisa cairan menggunakan mesin sentrifugasi, dikeringkan, dan disaring agar ukurannya seragam.
Tahap akhir pembuatan micin adalah pengemasan otomatis bersuhu panas.
Sebelum didistribusikan, setiap kemasan diperiksa ketat menggunakan mesin penimbang otomatis (checkweigher) serta alat pendeteksi logam (metal detector) untuk memastikan kebersihan, keamanan, dan standar berat produk sebelum sampai ke tangan konsumen. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube MANUFACTO