RADARTUBAN - Bayangkan jika kita liburan ke Singapura, Thailand, atau Vietnam tanpa perlu repot mengantre di tempat penukaran uang.
Bagi para pelaku usaha, tidak adanya perbedaan mata uang tentu menjadi angin segar karena mereka tak lagi dipusingkan oleh biaya tambahan konversi atau risiko fluktuasi harga barang yang mendadak naik.
Gagasan mengenai satu mata uang tunggal untuk kawasan Asia Tenggara memang terdengar sangat menarik.
Jika melihat ke Benua Biru, skema mata uang tunggal terbukti memberikan dampak ekonomi yang luar biasa.
Dilansir dari kanal YouTube Kok Bisa, penerapan mata uang Euro di Uni Eropa berhasil menekan tingkat inflasi hingga puluhan persen.
Baca Juga: Mata Uang Ringgit Malaysia Melesat Jadi yang Terkuat di Asia, Ungguli Mayoritas Negara Tetangga
Bahkan, Euro mampu mengukuhkan posisinya sebagai mata uang paling berpengaruh kedua di dunia selama bertahun-tahun. Kehadiran Euro juga berfungsi menyeimbangkan nilai kurs antarnegara anggota, sehingga perekonomian kawasan menjadi lebih seragam dan stabil.
Lantas, mengapa negara-negara di kawasan ASEAN tidak mengadopsi langkah serupa? Dikutip dari penjelasan kanal YouTube Kok Bisa, para peneliti menyimpulkan bahwa risikonya jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungan yang didapat. Saat ini, ASEAN dinilai belum sepenuhnya siap untuk melangkah sejauh itu.
Salah satu alasan utamanya adalah volume perdagangan antarnegara tetangga di ASEAN yang masih terbilang kecil. Sebagian besar negara anggota justru lebih aktif melakukan transaksi perdagangan dengan mitra di luar kawasan.
Kondisi ini membuat keberadaan mata uang tunggal belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Selain itu, tingkat ketimpangan ekonomi antarnegara ASEAN masih sangat lebar.
Padahal, syarat utama penerapan satu mata uang adalah kondisi keuangan dan masalah ekonomi yang relatif setara agar solusi kebijakan moneter yang diambil bisa efektif untuk semua.
Pengalaman Uni Eropa sendiri menjadi pelajaran berharga. Ketika Yunani mengalami krisis keuangan hebat, negara tersebut membutuhkan penurunan nilai kurs agar sektor pariwisata dan barang ekspornya kembali bergairah.
Namun, karena tidak lagi memegang kendali atas mata uangnya sendiri, Yunani terpaksa bergantung pada bantuan Uni Eropa yang disertai syarat-syarat pengetatan anggaran yang teramat berat bagi rakyatnya.
Di samping faktor ekonomi, ikatan Euro lahir dari latar belakang sejarah yang kuat setelah Eropa memetik pelajaran dari dua kali perang dunia. Kondisi ini berbeda dengan ASEAN yang kawasan lingkungannya cenderung stabil.
Meskipun sesekali terjadi konflik kecil antarnegara tetangga, perselisihan tersebut relatif aman dan jarang bereskalasi menjadi perang terbuka, kecuali jika terdapat intervensi dari pihak luar.
Mewujudkan satu mata uang tunggal untuk ASEAN bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Integrasi ekonomi memerlukan kesiapan struktural, kesetaraan kondisi finansial, serta komitmen yang matang agar niat menyatukan kawasan tidak justru menjadi beban di masa depan.(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube Kok Bisa