Presiden Prabowo Klaim Penghasilan Ojol Naik Tiga Kali Lipat, Sistem Bagi Hasil Jadi Sorotan Publik

Tulus Widodo • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:12 WIB
Presiden Prabowo menyebut penghasilan ojol naik hingga 3 kali lipat.
Presiden Prabowo menyebut penghasilan ojol naik hingga 3 kali lipat.

RADARTUBAN – Kabar soal kesejahteraan pengemudi ojek online (ojol) kembali mencuri perhatian. Presiden Prabowo Subianto menyatakan penghasilan ojol meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat setelah pemerintah menetapkan perubahan sistem bagi hasil antara perusahaan aplikasi dan pengemudi.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR, Jumat (14/8).

Prabowo mengklaim kebijakan baru itu memberikan dampak langsung terhadap pendapatan pengemudi yang bermitra dengan sejumlah platform transportasi online, termasuk Grab dan Gojek.

Klaim tersebut sekaligus menjadi sorotan karena menyentuh persoalan paling sensitif dalam ekosistem transportasi online: berapa besar uang yang benar-benar masuk ke kantong pengemudi setelah setiap perjalanan selesai.

Baca Juga: Kabar Baik untuk Ojol! Pemerintah Siapkan Status UMKM, Peluang Dapat KUR Makin Besar

Komisi Ojol Diubah

Prabowo sebelumnya mengumumkan perubahan sistem bagi hasil tersebut saat peringatan Hari Buruh pada 1 Mei 2026.

Dalam skema sebelumnya, pengemudi ojol disebut hanya berhak menerima minimal 20 persen dari biaya tarif transportasi online yang dibayarkan pengguna.

Pemerintah kemudian memerintahkan agar komisi minimal yang diterima pengemudi dinaikkan menjadi 92 persen.

Perubahan angka itu terbilang ekstrem. Dari posisi sebelumnya, porsi yang disebut menjadi hak pengemudi melonjak tajam.

Prabowo menyatakan kebijakan tersebut bukan sekadar perubahan administratif, melainkan diarahkan untuk memperbaiki kesejahteraan pekerja di sektor ekonomi digital.

Klaim Besar, Publik Menunggu Bukti

Klaim penghasilan ojol naik dua hingga tiga kali lipat tentu terdengar menggiurkan. Namun, angka tersebut juga menyisakan pertanyaan besar: apakah kenaikan itu dirasakan merata oleh seluruh pengemudi?

Pendapatan ojol sangat dipengaruhi jumlah order, jarak perjalanan, tarif, jam kerja, insentif, biaya operasional hingga kondisi persaingan antaraplikasi.

Karena itu, klaim kenaikan pendapatan perlu dibaca secara hati-hati. Lonjakan penghasilan kotor belum tentu otomatis berarti kenaikan pendapatan bersih.

Baca Juga: Tak Terima Ditegur karena Berhenti di Tengah Jalan, Pengendara Mobil Bacok Ojol

Bagi pengemudi, bensin, perawatan kendaraan, cicilan, kuota internet dan waktu tunggu tetap menjadi beban yang menentukan seberapa besar uang benar-benar tersisa.

Kebijakan bagi hasil 92 persen kini menjadi taruhan besar. Jika benar mampu menggandakan penghasilan pengemudi, pemerintah mendapat pembuktian bahwa intervensi terhadap ekonomi platform bisa berdampak nyata.

Namun jika angka tersebut hanya terlihat besar di atas kertas, persoalannya justru bisa menjadi bola panas baru.

Satu hal jelas: setelah pernyataan Prabowo ini, publik akan menunggu apakah janji penghasilan ojol naik dua hingga tiga kali lipat benar-benar terasa di jalanan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Penghasilan ojol presiden prabowo subianto