Mengapa Negara Berpenduduk Besar Seperti Indonesia, Tiongkok, dan India Sulit Tembus Piala Dunia?

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:12 WIB
Pembinaan sepak bola anak usia dini sebagai langkah awal membangun ekosistem dan budaya sepak bola yang kuat. (pinterest.com)
Pembinaan sepak bola anak usia dini sebagai langkah awal membangun ekosistem dan budaya sepak bola yang kuat. (pinterest.com)

RADARTUBAN– Memiliki jumlah penduduk ratusan juta hingga miliaran jiwa ternyata tidak menjadi jaminan bagi suatu negara untuk sukses di panggung sepak bola dunia.

Negara-negara berpenduduk besar layaknya Tiongkok, India, serta Indonesia tetap harus mengerahkan upaya ekstra agar mampu kompetitif di level internasional dan menembus babak utama Piala Dunia.

Salah satu pemicu utamanya adalah sangat minimnya rasio jumlah pemain profesional dibandingkan total populasi.

Tiongkok dan India yang berpenduduk lebih dari 1,4 miliar jiwa tercatat hanya memiliki sekitar 1.500-an pemain bola profesional yang terikat kontrak resmi klub. 

Kondisi serupa terjadi di Indonesia, yang dari nyaris 300 juta penduduknya hanya mencatatkan sekitar 1.400-an pemain profesional.

Baca Juga: Gagal Masuk Amerika untuk Piala Dunia, Wasit Omar Artan Justru Ukir Sejarah di UEFA Super Cup

Angka ini sangat timpang bila dibandingkan dengan Spanyol yang memiliki 8.500 pemain profesional dari 49 juta populasi, atau Kroasia yang mengantongi hampir 1.200 pemain profesional meski hanya dihuni oleh 3,8 juta jiwa.

Di negara-negara berpenduduk besar, karier sebagai pesepak bola profesional umumnya bukan menjadi pilihan utama.

Pilihan profesi yang dianggap memberikan kepastian masa depan seperti pekerja teknologi, pegawai pabrik, hingga pegawai negeri masih lebih mendominasi preferensi masyarakat. 

Di samping itu, wadah pembentukan talenta dan fasilitas sepak bola usia dini yang ada dinilai belum memadai untuk menampung minat anak-anak.

Poin krusial lain yang membedakan adalah keberadaan budaya sepak bola (football culture). Di negara-negara seperti Indonesia, budaya yang terbentuk sejauh ini lebih dominan pada budaya menonton bola, bukan budaya menjadi pelaku atau mengabdikan karier penuh di sepak bola sejak usia dini sebagaimana yang terjadi di Brasil, Argentina, atau Eropa.

Untuk membangun budaya sepak bola yang berkelanjutan, ada tiga elemen utama yang wajib dikembangkan secara beriringan: grassroots (pencarian bakat dasar), pembinaan berjenjang melalui akademi dan kompetisi rutin, serta liga lokal yang berkualitas.

Negara-negara Asia seperti Jepang dan Uzbekistan sangat layak dijadikan kiblat sekaligus standar kesuksesan yang nyata. Jepang, yang pada tahun 1980-an belum memiliki tradisi kuat sepak bola, secara bertahap memasukkan kurikulum sepak bola di sekolah dengan pelatih berlisensi standar federasi (JFA).

Jepang juga menggelar kompetisi antar-SMA (All Japan High School Soccer Tournament) hingga liga antar-universitas sebagai wadah pemandu bakat (scouting) klub-klub profesional.

Strategi yang tertata rapi inilah yang terbukti ampuh melahirkan pemain sepak bola kelas dunia secara terus-menerus tanpa putus. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
india piala dunia penduduk Indonesia tiongkok