RADARTUBAN- Pernah dengar obrolan miring soal kedai kopi atau restoran baru yang sepi pengunjung tapi kok bisa bertahan sampai bertahun-tahun?
Biasanya, komentar julid langsung keluar: "Ah, paling itu cuma kedok buat cuci uang." Menariknya, bisnis makanan dan minuman (F&B) ini memang sering banget kena tudingan semacam itu. Tapi, apa alasannya bisnis kuliner yang selalu jadi sasaran tembak?
Dilansir dari kanal YouTube Dari Suara dalam tayangan bertajuk 'money laundry', bisnis kuliner ternyata punya sistem transaksi yang menjadikannya rawan disalahgunakan. Alasan utamanya adalah perputaran uang tunai alias cash yang sangat kencang.
Berbeda dengan bisnis modern lain yang transaksinya hampir seratus persen digital atau transfer bank, industri F&B masih sangat akrab dengan pembayaran uang tunai dari tangan ke tangan.
Baca Juga: X Money Resmi Meluncur di AS, Pelanggan Premium Kini Bisa Kirim Uang dan Pakai Kartu Debit Visa
"Transaksi tunai dalam jumlah yang besar dan terjadi setiap harinya membuat asal-usul uang menjadi lebih sulit untuk dilacak oleh pihak berwenang," seperti yang dikutip dari penjelasan kanal YouTube Dari Suara.
Bukan cuma urusan uang tunai, biaya operasional di dunia kuliner itu terkenal sangat ribet. Pengeluaran hariannya amat beragam dan berlapis-lapis.
Mulai dari belanja bahan baku segar ke pasar tradisional yang harganya fluktuatif, tagihan listrik yang bengkak, uang sewa tempat, sampai urusan gaji karyawan harian.
Kerumitan inilah yang bikin pembukuan bisnis gampang dimanipulasi. Uang gelap hasil kejahatan bisa disusupkan masuk seolah-olah itu adalah keuntungan bersih warung, atau sebaliknya, dibenarkan lewat tumpukan nota pengeluaran fiktif.
Biar lebih gampang membayangkannya, kita perlu membedah tiga konsep dasar dalam pencucian uang. Tahap pertama adalah placement, yaitu cara pelaku menempatkan uang kotor ke sistem keuangan yang sah.
Di sebuah restoran, uang haram ini disetor ke kasir seakan-akan uang itu berasal dari penjualan ratusan porsi makanan kepada pelanggan fiktif.
Langkah kedua disebut layering, yakni tahap memisahkan uang dari sumber kejahatan aslinya biar jejaknya kabur.
Dalam bisnis kuliner, proses ini gampang banget dilakukan dengan cara memutar uang tadi untuk membayar tagihan operasional yang ribet, borong peralatan dapur mahal, atau melunasi tagihan ke supplier. Makin ruwet putaran uangnya, makin pusing aparat melacaknya.
Tahap terakhir adalah integration. Pada fase pamungkas ini, uang yang tadinya kotor sudah disulap menjadi uang halal.
Uang tersebut masuk ke rekening pribadi pelaku sebagai keuntungan resmi dari berbisnis kuliner. Hasilnya? Mereka bisa santai pamer kekayaan atau beli aset mewah tanpa takut diendus petugas pajak.
Jadi, sudah jelas kenapa industri kuliner kerap dituduh tiap kali ada kasus pencucian uang.
Kombinasi maut antara putaran uang tunai yang deras dan detail pengeluaran yang ruwet menciptakan tempat persembunyian yang sempurna bagi aliran dana gelap.
Meski begitu, mari kita tetap objektif dan tidak gampang suuzan. Di luar sana, mayoritas pengusaha kuliner adalah orang-orang hebat yang banting tulang dari nol, murni demi menyajikan hidangan lezat dan mengais rezeki halal untuk keluarganya. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Dari Suara