Ketua DPD Puji Prabowo-Gibran, Ibaratkan Transformasi Ekonomi seperti “Mencabut Duri”

Cicik Nur Latifah • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2026 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

RADARTUBAN — Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dia menilai dwitunggal kepemimpinan tersebut mampu bergerak selaras dan saling mengisi dalam mengokohkan kedaulatan bangsa.

Apresiasi tersebut disampaikan Sultan saat berpidato dalam Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

”DPD RI menyampaikan apresiasi yang tulus kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, yang secara kompak dan saling melengkapi dalam menegakkan martabat bangsa,” puji Sultan.

Baca Juga: Prabowo Hadiri Sidang Tahunan MPR, Pidato RAPBN 2027 Dinanti

Langkah Strategis Penguasaan Kekayaan Alam

Sultan menyoroti berbagai terobosan kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional di tengah tingginya dinamika dan ketidakpastian geopolitik global.

Menurutnya, Presiden Prabowo telah mengambil langkah berani untuk mengembalikan kendali negara atas sumber daya alam nasional, sesuai mandat Pasal 33 UUD 1945.

”Presiden Prabowo telah membuat langkah strategis untuk mengembalikan penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat, sesuai amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” paparnya.

Kiasan "Mencabut Duri" Transformasi Ekonomi

Dalam pidatonya, Ketua DPD RI mengibaratkan proses pembenahan dan transformasi ekonomi nasional seperti tindakan medis yang menyakitkan namun wajib dilakukan demi pemulihan jangka panjang.

”Mencabut duri tentu tidak nyaman. Ada rasa perih, bahkan sedikit pendarahan. Namun, selama duri itu tetap tertancap, luka tidak akan pernah benar-benar sembuh,” tegasnya.

Ungkapan tersebut menggambarkan berbagai permasalahan struktural yang selama ini membebani perekonomian nasional, seperti tingginya ketergantungan impor, rendahnya nilai tambah hilirisasi, praktik under-invoicing, transfer pricing, hingga inefisiensi.

Sultan menegaskan bahwa pembenahan fondasi ekonomi memerlukan keberanian mengambil langkah-langkah tegas demi mewujudkan Indonesia yang mandiri dan berdaya saing.

Program Pembangunan Terintegrasi

Lebih lanjut, Sultan menekankan bahwa berbagai program prioritas pemerintah saat ini dibentuk sebagai satu kesatuan ekosistem kebijakan yang saling menopang.

Rangkaian program terintegrasi tersebut mencakup pengelolaan investasi Danantara, Kebijakan Ekspor Satu Pintu, kemandirian pangan dan energi, Sekolah Rakyat, program Makan Bergizi Gratis, hingga penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih serta Kampung Nelayan Merah Putih.

”Seluruh langkah tersebut merupakan sistem kebijakan yang terintegrasi dan saling terkait demi mewujudkan kedaulatan ekonomi nasional,” pungkasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
parlemen prabowo gibran dpd ri