RADARTUBAN– Tren belanja live commerce melalui berbagai platform media sosial dan e-commerce kini tengah digandrungi oleh masyarakat luas.
Dengan iming-iming harga miring dan didukung promosi gencar dari para figur publik maupun influencer sukses memicu aksi belanja impulsif dari konsumen.
Namun, di balik kemudahan transaksi dan iming-iming harga miring tersebut, maraknya banjir produk impor Original Design Manufacturer (ODM) serta barang reondisi (refurbished) berisiko tinggi merusak ekosistem perekonomian nasional secara berkelanjutan.
Produk ODM merupakan barang yang diproduksi secara masal oleh pabrik tanpa identitas merek tertentu. Pelaku usaha maupun pemesan dari mana saja dapat membeli barang tersebut, melabeli produk dengan stiker merek milik sendiri, lalu langsung mendistribusikannya ke pasar lokal.
Baca Juga: BRI Bantu UMKM NOMNOM Tembus Pasar Singapura, Camilan Lokal Siap Go International
Dampaknya, puluhan merek berbeda di platform belanja online sering kali menjual barang yang persis sama tanpa dibekali jaminan kualitas maupun layanan purnajual yang jelas.
Penjualan produk-produk ini pun makin masif berkat strategi psikologi pemasaran berdurasi singkat (flash sale) yang memaksa konsumen mengambil keputusan instan.
Fenomena harga murah yang tidak realistis ini secara perlahan namun pasti mengikis daya saing pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri manufaktur dalam negeri.
Berbanding terbalik dengan barang impor yang sering kali lolos dari pengawasan regulasi, UMKM lokal dibebani biaya produksi resmi yang tidak bisa dihindari, mulai dari upah pekerja, biaya bahan baku, sertifikasi standar produk, hingga kewajiban pajak.
"Ketika ada produk impor yang harganya jauh di bawah HPP (Harga Pokok Penjualan) produsen lokal, fenomena race to the bottom akan terjadi. Semua pemain dipaksa menurunkan harga sampai yang tidak kuat keluar dari pasar, dan yang keluar duluan hampir selalu pelaku usaha paling kecil," ungkap narator kanal YouTube Dari Suara saat membedah skema pasar impor tersebut.
Di samping membahayakan keberlangsungan UMKM, kebiasaan mengonsumsi barang impor murah juga memicu kebocoran arus modal (capital outflow) ke luar negeri.
Uang transaksi dari masyarakat tidak berputar dalam rantai ekonomi lokal, melainkan mengalir langsung ke pabrik-pabrik manufaktur asing tanpa menciptakan lapangan kerja baru di dalam negeri.
Kondisi ini jika terus dibiarkan tanpa adanya edukasi konsumen dan regulasi yang ketat diprediksi dapat melumpuhkan Sektor Industri Pengolahan nasional, meningkatkan angka pengangguran, serta menciptakan ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi terhadap pasokan barang dari negara luar. (*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : YouTube Dari Suara