RADARTUBAN- Momen peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menjadi saat yang tepat untuk merenungkan kembali sejarah panjang perjuangan bangsa.
Selama berabad-abad, Nusantara menjadi perebutan berbagai bangsa asing yang ingin menguasai kekayaannya. Dari sekian banyak negara, Belanda dan Jepang adalah dua bangsa yang paling lama dan paling membekas dalam ingatan kolektif masyarakat kita.
Meski keduanya sama-sama menjajah dan menyisakan duka yang mendalam, nyatanya kedua negara ini punya gaya, tujuan, dan dampak yang sangat berbeda bagi masyarakat Indonesia pada masa itu.
Dilansir dari kanal YouTube Apa Bedanya, terdapat sejumlah perbedaan mencolok dari era kolonialisme Hindia Belanda dan masa pendudukan militer Jepang di Tanah Air.
Perbedaan ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari tujuan utama mereka datang hingga warisan yang masih kita rasakan dan pakai sampai detik ini.
Mari kita bahas dari awal, yakni tujuan kedatangannya. Dikutip dari video tersebut, bangsa Belanda datang ke Nusantara murni karena urusan ekonomi dan isi dompet melalui organisasi VOC.
Mereka ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah yang saat itu harganya selangit di pasar Eropa. Seiring berjalannya waktu, niat dagang itu perlahan berubah menjadi hasrat penjajahan wilayah demi mengeruk hasil bumi.
Di sisi lain, Jepang datang karena desakan kondisi Perang Dunia II. Mereka sangat membutuhkan pasokan sumber daya alam, khususnya minyak bumi dan karet, untuk menggerakkan mesin perangnya.
Jepang juga datang dengan narasi manis sebagai "Saudara Tua" yang berjanji membebaskan bangsa Asia dari penjajahan Barat, padahal nyatanya mereka hanya menjadikan Indonesia sebagai pemasok logistik militer.
Dalam hal mengontrol masyarakat, Belanda sangat terkenal dengan strategi licik devide et impera atau adu domba. Mereka mengelompokkan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial yang sangat kaku, menempatkan warga pribumi di kasta paling bawah.
Tujuannya jelas, agar masyarakat merasa berbeda dan tidak bersatu melawan penjajah. Berbeda jauh dengan Jepang yang menggunakan pendekatan fasisme militeristik dan propaganda agresif.
Mengutip penjelasan dari kanal YouTube Apa Bedanya, militer Jepang membentuk berbagai macam organisasi dan menyusupkan propaganda secara masif untuk mencuci otak rakyat, sehingga rakyat bersedia membantu ambisi Perang Asia Timur Raya yang mereka gaungkan.
Bagaimana dengan nasib dan kehidupan sehari-hari rakyat kita? Di era pemerintahan Belanda, penderitaan banyak berpusat pada sistem kerja paksa jangka panjang seperti kebijakan Tanam Paksa.
Rakyat dipaksa menanam komoditas ekspor dan hidup dalam jerat kemiskinan. Namun, pada masa pendudukan Jepang, meski waktunya sangat singkat dan hanya sekitar tiga setengah tahun, rasanya ibarat mimpi buruk yang jauh lebih brutal.
Hasil panen, hewan ternak, hingga pakaian dirampas habis-habisan untuk menunjang tentara Jepang. Kelaparan merajalela, penyakit mewabah, dan banyak rakyat terpaksa mengenakan baju dari karung goni yang gatal. Penderitaan fisik melalui kerja paksa romusha juga menelan ribuan korban jiwa.
Baca Juga: Nama Depok Ternyata Singkatan Komunitas Kristen yang Didirikan Pegawai VOC, Siapa Dia?
Menariknya, pendekatan di bidang pendidikan justru bertolak belakang antara keduanya. Pemerintah Belanda bersikap sangat diskriminatif, hanya mendirikan sekolah untuk kaum bangsawan dan priyayi agar rakyat biasa tetap dalam kebodohan dan tidak punya niat memberontak.
Sebaliknya, Jepang justru membuka banyak sekolah untuk rakyat awam dengan menyeragamkan jenjang pendidikan. Namun, seperti yang dilansir dari kanal YouTube Apa Bedanya, sekolah era Jepang lebih difokuskan pada latihan fisik militer dan indoktrinasi kesetiaan mutlak kepada Kaisar Jepang.
Tanpa disadari, kebijakan ini, ditambah dengan kebebasan menggunakan bahasa Indonesia secara luas, justru menjadi bumerang bagi Jepang.
Kebijakan tersebut secara efektif menyatukan komunikasi antar suku dan memupuk rasa nasionalisme yang begitu kuat di dada pemuda sebagai modal besar untuk merebut kemerdekaan.
Pada akhirnya, kedua penjajah ini meninggalkan warisan yang sangat berbeda bentuknya. Belanda mewariskan sistem hukum (KUHP), hingga ribuan kata serapan dalam bahasa kita.
Sementara itu, Jepang yang memberikan pengaruh besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia yang warisannya masih kita rasakan sekarang dengan organisasi masyarakat yang dibangun seperti Peta, Heiho, dan Giugun yang kemudian sekarang menjadi cikal bakal TNI militer Indonesia.
Pada akhirnya, baik Belanda maupun Jepang sama-sama menorehkan tinta hitam kelam dalam sejarah kita. Belanda mengeksploitasi bangsa ini lewat cengkeraman ekonomi dan pemisahan kelas sosial selama ratusan tahun, sementara Jepang memeras habis sumber daya bangsa secara sangat brutal dalam waktu yang singkat.
Meski demikian, dari segala derita tersebut, bangsa Indonesia belajar banyak tentang arti ketangguhan.
Rasa senasib sepenanggungan inilah yang pada akhirnya meledakkan semangat persatuan yang luar biasa teguh, membawa seluruh elemen bangsa berjuang tanpa lelah hingga berhasil mengumandangkan proklamasi kemerdekaan yang kita rayakan dengan penuh kebanggaan setiap tanggal 17 Agustus. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni